Home / darulkautsar.net / Pemurnian Aqidah / ISLAM LIBERAL / FAKTA DAN DATA LIBERALISASI ISLAM DI INDONESIA
Klik Untuk Ke Laman Darulkautsar Indeks

FAKTA DAN DATA LIBERALISASI ISLAM DI INDONESIA

Peringatan: Artikel di bawah adalah dalam Bahasa Indonesia dan hendaklah difahami dalam konteks bahasa tersebut

 

FAKTA DAN DATA LIBERALISASI ISLAM DI INDONESIA

Oleh: Adian Husaini, MA

1. Pendahuluan

Liberalisasi Islam di Indonesia, secara sistematis dimulai pada awal tahun 1970-an. Pada 3 Januari 1970, Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI), Nurcholish Madjid, secara rasmi menggulirkan perlunya dilakukan sekularisasi Islam. Sejak itu, peristiwa-peristiwa tragis susul-menyusul dan berlangsung secara liar, sulit dikendalikan lagi, hingga kini. Dengan mengadopsi gagasan Harvey Cox – melalui bukunya The Secular City -Nurcholish Madjid membuka pintu masuk arus sekularisasi dan liberalisasi dalam Islam, menyusul kasus serupa dalam tradisi Yahudi dan Kristian.

Bagi banyak kaum Kristian, sekularisasi dianggap menjadi satu keharusan yang tidak dapat ditolak. Harvey Cox membuka buku terkenalnya, The Secular City, dengan bab “The Biblical Source of Secularization”, yang diawali kutipan pendapat teologi Jerman Friedrich Gogarten: “Secularization is the legitimate consequence of the impact of biblical faith on history.” Bahawa sekularisasi adalah akibat logis daripada dampak kepercayaan Bible terhadap sejarah. Menurut Cox, ada tiga komponen penting dalam Bible yang menjadi kerangka asas kepada sekularisasi, iaitu: ‘disenchantment of nature’ yang dikaitkan dengan penciptaan (Creation), ‘desacralization of politics’ dengan migrasi besar-besaran (Exodus) kaum Yahudi daripada Mesir, dan ‘deconsecration of values’ dengan Perjanjian Sinai (Sinai Covenant). (1)

Jadi, kata Cox, sekularisasi adalah pembebasan manusia daripada asuhan agama dan metafisika, pengalihan perhatiannya daripada ‘dunia lain’ menuju dunia kini. (Secularization is the liberation of man from religious and metaphysical tutelage, the turning of his attention away from other worlds and towards this one). Kerana sudah menjadi satu keharusan, kata Cox, maka kaum Kristian tidak seyogyanya menolak sekularisasi. Sebab sekularisasi merupakan konsekuensi otentik daripada kepercayaan Bible. Maka, tugas kaum Kristian adalah menyokong dan memelihara sekularisasi. (Far from being something Christians should be against, secularization represents an authentic consequence of biblical faith. Rather than oppose it, the task of Christians should be to support and nourish it). (2)

Buku “The Secular City ‘ termasuk buku yang luar biasa. Edisi pertama buku ini dicetak tahun 1965. Buku Cox ini mencetuskan cause célèbre agama diluar jangkaan pengarang dan penerbitnya sendiri. Buku ini merupakan ‘best-seller’ di Amerika dengan lebih 200 ribu naskah terjual dalam masa kurang daripada setahun. Buku ini juga adalah karya utama yang menarik perhatian masyarakat kepada isu sekularisasi. Menurut Dr. Marty, beberapa kalangan menjadikan buku tersebut sebagai buku panduan, manual untuk bebas lepas daripada sembarangan dongeng mitos dan agama. (3)

Pengaruh buku ini ternyata juga melintasi batas negara dan agama. Di Yogyakarta, sekelompok aktivis yang tergabung dalam Lingkaran Diskusi Limited Group di bawah bimbingan Mukti Ali, sangat terpengaruh oleh “The Secular City” nya Harvey Cox. Di antara sejumlah aktivis dalam diskusi itu adalah Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, dan Ahmad Wahib. (4) Tetapi, gagasan Cox ketika itu belum terlalu berkembang. Ahmad Wahib hanya menulis catatan harian yang kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku selepas meninggalnya. Djohan Effendi pun tidak terlalu kuat pengaruhnya.

Pengaruh Cox baru tampak jelas di Indonesia pada pemikiran Nurcholish Madjid secara rasmi meluncurkan gagasan sekularisasinya dalam diskusi di Markas PB Pelajar Islam Indonesia (PII) di Jakarta. Ketika itu, Nurcholish meluncurkan makalah berjudul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”. Dua puluh tahun kemudian, gagasan itu kemudian diperkuatl agi dengan pidatonya di Taman Ismail Marzuki Jakarta, pada tanggal 21 Oktober 1992, yang dia beri judul “Beberapa Renungan Tentang Kehidupan Keagamaan di Indonesia”.

Seperti kita ketahui, arus sekularisasi dan liberalisasi terus berlangsung begitu deras dalam berbagai sisi kehidupan: sosial, ekonomi, politik, dan bahkan pemikiran keagamaan. Kini, setelah 30 tahun berlangsung, arus besar itu semakin sulit dikendalikan, dan berjalan semakin liar. Penyebaran fahaman “pluralisme agama”, “dekonstruksi agama”, “dekonstruksi Kitab Suci” dan sebagainya, kini justeru berpusat di kampus-kampus dan organisasi Islam – sebuah fenomena yang ‘khas Indonesia’. Fahaman-fahaman ini menusuk jantung Islam dan merobohkan Islam daripada pondasinya yang paling dasar.

Kaum Kristian sejak lama menyedari benar akan bahaya ini. Dalam pertemuan Misionaris Kristian Sedunia di Jerusalem tahun 1928, mereka menetapkan sekularisme sebagai musuh besar Gereja dan misi Kristian. Dalam usaha untuk mengkristiankan dunia, Gereja Kristian bukan hanya menghadapi tentangan agama lain, tetapi juga tentangan sekularisme. (It was made clear that in its efforts to evangelize the world, the Christian Church has to confront not only the rival claims of non-Christian religious system, but also the challenge of secularism). Pertemuan Jerusalem itu secara khusus menyorot sekularisme yang dipandang sebagai musuh besar Gereja dan misinya, serta musuh bagi misi Kristian internasional. (5)

2. Daripada Tradisi Yahudi Dan Kristian

Proses liberalisasi sebenarnya terjadi kepada berbagai-bagai bidang kehidupan, baik bidang politik, ekonomi, sosial, informasi, moral, dan sebagainya, termasuk bidang agama. Agama Yahudi telah lama mengalami liberalisasi, sehingga saat ini, “Liberal Judaism” (Yahudi Liberal) secara rasmi masuk dalam salah satu aliran dalam agama Yahudi. Perkembangan liberalisasi dalam agama Kristian juga sudah sangat jauh. Bahkan, agama Kristian bisa dikatakan sebagai salah satu “korban” liberalisasi daripada peradaban Barat. Agama Kristian mulai bersinar di Eropah ketika pada tahun 313, Kaisar Konstantin mengeluarkan surat perintah (Edik) yang isinya memberi kebebasan warga Romawi untuk memeluk agama Kristian. Bahkan, pada tahun 380, Kristian dijadikan sebagai agama negara oleh Kaisar Theodosius. Menurut Edik Theodosius, semua warga negara Romawi diwajibkan menjadi anggota gereja Katolik. Agama-agama kafir dilarang. Bahkan sektor-sektor Kristian di luar “gereja rasmi” pun dilarang.

Dengan berbagai-bagai keistimewaan yang dinikmatinya, Kristian kemudian menyebar ke berbagai-bagai penjuru dunia, hingga kini jumlah pemeluknya mencapai sekitar 1,9 milyar jiwa, meskipun terbahagi ke dalam sejumlah agama (Katolik, Protestan, Orthodoks). Tapi, jika dicermati lebih jauh, perkembangan gereja-gereja di Eropah – asal persebaran Kristian – cukup menyedihkan. Sebuah buku yang ditulis Herlianto – seorang aktivis Kristian asal Bandung – berjudul Gereja Mode, Mau Kemana? (1995) memaparkan dengan jelas kehancuran gereja-gereja di Eropah. Kristian kelabakan dihantam nilai-nilai sekulerisme, modeisme, liberalisme, dan “klenikisme”.

Di Amsterdam, misalnya, 200 tahun lalu 99 peratus penduduknya beragama Kristian. Kini, tinggal 10 peratus saja yang dibaptis dan ke gereja. Kebanyakan mereka sudah tidak terikat lagi dalam agama atau sudah menjadi sekular. Di Perancis, yang 95 peratus penduduknya tercatat beragama Katolik, hanya 13 persennya saja yang menghadiri kebaktian di gereja seminggu sekali.

Pada 1987, di Jerman, menurut laporan Institute for Public Opinion Research, 46 peratus penduduknya mengatakan, bahawa “agama sudah tidak diperlukan lagi.” Di Finland, yang 97 peratus Kristian, hanya 3 peratus saja yang pergi ke gereja tiap minggu. Di Norway, yang 90 peratus Kristian, hanya setengahnya saja yang percaya pada dasar-dasar kepercayaan Kristian. Juga, hanya sekitar 3 peratus saja yang rutin ke gereja tiap minggu.

Masyarakat Kristian Eropah juga tergila-gila pada paranormal, mengalahkan kepercayaan mereka pada pendeta atau imam Katolik. Di Jerman Barat – sebelum bersatu dengan Jerman Timur – terdapat 30,000 pendeta. Tetapi jumlah peramal (dukun klenik/witchcraft) mencapai 90,000 orang. Di Perancis terdapat 26,000 imam Katolik, tetapi jumlah peramal bintang (astrologi) yang terdaftar mencapai 40,000 orang.

Fenomena Kristian Eropah menunjukkan, agama Kristian kelabakan menghadapi serbuan arus budaya Barat yang didominasi nilai-nilai liberalisme, sekularisme, dan hedonisme. Serbuan praktik perdukunan juga tidak mampu dibendung. Di sejumlah gereja, arus liberalisasi mulai melanda. Misalnya, gereja mulai menerima praktik-praktik homoseksualitas. Erk James, seorang pejabat gereja Inggeris, dalam bukunya berjudul “Homosexuality and a Pastoral Church” mengimbau agar gereja memberikan toleransi pada kehidupan homoseksual dan mengizinkan perkahwinan homoseksual antara lelaki dengan lelaki atau wanita dengan wanita.

Sejumlah negara Barat telah melakukan “revolusi jingga”, kerana secara rasmi telah mengesahkan perkahwinan sejenis. Parlimen Jerman masih terus memperdebatkan undang-undang serupa. Di berbagai-bagai negara Barat, praktik homoseksual bukanlah dianggap sebagai kejahatan. Begitu juga praktik-praktik perzinaan, minuman keras, pornograti, dan sebagainya. Barat tidak mengenal sistem dan standard nilai (baik-buruk) yang pasti. Semua serba relatif; diserahkan kepada “kesepakatan” dan “kepantasan” umum yang berlaku.

Maka, orang berzina, meneguk alkohol, mempertontonkan aurat, dan sejenisnya bukanlah dipandang sebagai suatu kejahatan, kecuali jika masyarakat menganggapnya jahat. Homoseksual dianggap baik dan disahkan oleh negara. Bahkan, pada November 2003, para pastor Gereja Anglikan di New Hampshire AS, sepakat untuk mengangkat seorang Uskup homoseks bernama Gene Robinson. Kaum Kristian yang homo itu melakukan perombakan terhadap ajaran Kristian, terutama mengubah tafsir lama yang masih melarang tindakan homoseksual.

Di Indonesia, bahkan, di Fakultas Syariah IAIN Semarang, sejumlah mahasiswanya juga melakukan tindakan yang sama, dengan apa yang telah dilakukan kaum Yahudi dan Kristian. Ini bisa dibaca pada bahagian selanjutnya. Jadi, apa yang sudah terjadi kepada kaum Yahudi dan Kristian telah diikuti oleh sebahagian kalangan kaum Muslim.

3. Program Liberalisasi Islam

Secara sistematis, Liberalisasi Islam di Indonesia yang sudah dijalankan sejak awal tahun 1970-an, dilakukan melalui tiga bidang penting dalam ajaran Islam, iaitu (1) liberalisasi bidang aqidah dengan penyebaran fahaman Pluralisme Agama, (2) liberalisasi bidang syariah dengan melakukan perubahan metodologi ijtihad, dan (3) liberalisasi konsep wahyu dengan melakukan dekonstruksi terhadap al-Quran.

Dalam disertasinya di Monash University, Australia, Dr. Greg Barton, memberikan sejumlah program Islam Liberal di Indonesia, iaitu: (a) Pentingnya konstekstualisasi ijtihad, (b) Komitmen terhadap rasionaliti dan pembaharuan, (c) Penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama, (d) Pemisahan agama daripada parti politik dan adanya posisi non-sektorian negara. (6 )

Dari disertasi Barton tersebut dapat diketahui, bahawa memang ada strategi dan program yang sistematis dan metodologis dalam liberalisasi Islam di Indonesia. Penyebaran fahaman Pluralisme Agama – yang jelas-jelas merupakan fahaman syirik moden – dilakukan dengan cara yang sangat masif, melalui berbagai-bagai saluran, dan dukungan dana yang luar biasa. Daripada program tersebut, ada tiga aspek liberalisasi Islam yang sedang gencar-gencarnya dilakukan di Indonesia.

3.1 Liberalisasi Aqidah Islam

Liberalisasi aqidah Islam dilakukan dengan menyebarkan fahaman Pluralisme Agama. Fahaman ini, pada dasarnya menyatakan, bahawa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi, menurut penganut fahaman ini, semua agama adalah jalan yang berbeza-beza menuju Tuhan yang sama. Atau, mereka menyatakan, bahawa agama adalah persepsi relatif terhadap Tuhan yang mutlak, sehingga – kerana kerelativannya – maka setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini, bahawa agamanya sendiri yang lebih benar atau lebih baik daripada agama lain; atau mengklaim bahawa hanya agamanya sendiri yang benar. Bahkan, menurut Charles Kimball, salah satu ciri agama jahat (evil) adalah agama yang memiliki klaim kebenaran mutlak (absolute truth claim) atas agamanya sendiri. (7)

Di Indonesia, penyebaran fahaman ini sudah sangat meluas, dilakukan oleh para tokoh, cendikiawan, dan para pengasong idea-idea liberal. Berikut ini pernyataan-pernyataan mereka:

a. Ulil Abshar Abdalla mengatakan: “Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar.” (Majalah GATRA, 21 Disember 2002). Ulil juga menulis: “Dengan tanpa rasa sungkan dan kekok, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Maha Benar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeza-beza dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama: iaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada hujungnya.” (Kompas, 18-11-2002, dalam artikelnya berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam)”.

Idea Ulil tentang agama ini berimbas pada masalah hukum perkahwinan antara agama, yang akhirnya ditegaskan kembali keharamannya oleh fatwa MUI. Dalam artikelnya di Kompas (18/11/2002) tersebut, Ulil juga menyatakan: “Larangan kahwin beza agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi.”

b. Budhy Munawar Rahman, penulis buku Islam Pluralis, di buku Wajah Liberal Islam di Indonesia (terbitan JIL), menulis, satu artikel berjudul “Basis Teologi Persaudaraan Antara Agama” (hal. 51-53). Di sini, ia mempromosikan teologi pluralis. la menulis bahawa “Konsep teologi semacam ini memberikan legitimasi kepada “kebenaran semua agama”, bahawa pemeluk agama apa pun layak disebut sebagai “orang yang beriman”, dengan makna “orang yang percaya dan menaruh percaya kepada Tuhan”. Kerana itu, sesuai QS 49:10-12, mereka semua adalah bersaudara dalam iman.”

Budhy menyimpulkan, “Kerananya, yang diperlukan sekarang ini dalam penghayatan masalah Pluralisme antara agama, yakni pandangan bahawa siapapun yang beriman tanpa harus melihat agamanya apa adalah sama di hadapan Allah. Kerana, Tuhan kita semua adalah Tuhan Yang Sama.” (8)

c. Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, dosen UIN Yogyakarta, menulis:” Jika semua agama memang benar sendiri, penting diyakini bahawa syurga Tuhan yang satu itu sendiri terdiri banyak pintu dan kamar. Tiap pintu adalah jalan pemeluk tiap agama memasuki kamar syurganya. Syarat memasuki syurga ialah keikhlasan pembebasan manusia daripada kelaparan, penderitaan, kekerasan dan ketakutan, tanpa melihat agamanya. Inilah jalan universal syurga bagi semua agama. Dari sini kerjasama dan dialog pemeluk berbeza agama jadi mungkin”(9)

d. Prof. Dr. Nurcholish Madjid, menyatakan, bahawa ada tiga sikap dialog agama yang dapat diambil. laitu, pertama, sikap eksklusif dalam melihat agama lain (agama-agama lain adalah jalan yang salah, yang menyesatkan bagi pengikutnya). Kedua, sikap inklusif (agama-agama lain adalah bentuk implicit agama kita). Ketiga, sikap pluralis yang bisa terekspresi dalam macam-macam rumusan, misalnya: “Agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai kebenaran yang sama”, “Agama-agama lain berbicara secara berbeza, tetapi merupakan kebenaran-kebenaran yang sama sah”, atau “Setiap agama mengekspresikan bahagian penting sebuah kebenaran”.

Lalu, tulis Nurcholish lagi, “Sebagai sebuah pandangan keagamaan, pada dasarnya Islam bersifat inklusif dan merentangkan tafsirannya ke arah yang semakin pluralis. Sebagai contoh, filsafat paranial yang belakangan banyak dibicarakan dalam dialog antara agama di Indonesia merentangkan pandangan pluralis dengan mengatakan bahawa setiap agama sebenaya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan daripada berbagai-bagai agama. Filsafat paranial juga membahagi agama pada level eksotrik (batin) dan eksotrik (lahir). Satu agama berbeza dengan agama lain dalam level eksotrik, tetapi relatif sama dalam level eksotriknya. Oleh kerana itu ada istilah “Satu Tuhan Banyak Jalan”.” (10)

Nurcholish Madjid juga menulis: “Jadi Pluralisme sesungguhnya adalah sebuah Aturan Tuhan (Sunnat Allah, “Sunnatullah”) yang tidak akan berubah, sehingga juga tidak mungkin dilawan atau diingkari.” (11)

f. Dr. Alwi Shihab menulis: “Prinsip lain yang digariskan oleh Al-Quran, adalah pengakuan eksistensi orang-orang yang berbuat baik dalam setiap komunitas beragama dan, dengan begitu, layak memperoleh pahala daripada Tuhan. Lagi-lagi, prinsip ini memperkukuh idea mengenai Pluralisme keagamaan dan menolak eksklusivisme. Dalam pengertian lain, eksklusivisme keagamaan tidak sesuai dengan semangat Al-Quran. Sebab Al-Quran tidak membeza-bezakan antara satu komuniti agama daripada lainnya.” (12)

g. Sukidi, alumnus Fakultas Syariah IAIN Ciputat yang sangat aktif menyebarkan fahaman Pluralisme Agama, menulis di koran Jawa Pos (11/1/2004): “Dan, konsekuensinya, ada banyak kebenaran (many truths) dalam tradisi dan agama-agama. Nietzsche menegasikan adanya Kebenaran Tunggal dan justeru bersikap afirmatif terhadap banyak kebenaran. Mahatma Gandhi pun seirama dengan mendeklarasikan bahawa semua agama – entah Hinduisme, Buddhisme, Yahudi, Kristian, Islam, Zoroaster, mahupun lainnya – adalah benar. Dan, konsekuensinya, kebenaran ada dan ditemukan pada semua agama. Agama-agama itu diibaratkan, dalam nalar Pluralisme Gandhi, seperti pohon yang memiliki banyak cabang (many), tapi berasal daripada satu akar (the One). Akar yang satu itulah yangmenjadi asal dan orientasi agama-agama. Kerana itu, mari kita memproklamasikan kembali bahawa Pluralisme Agama sudah menjadi hukum Tuhan (sunnatullah) yang tidak mungkin berubah. Dan, kerana itu, mustahil pula kita melawan dan menghindari. Sebagai muslim, kita tidak punya jalan lain kecuali bersikap positif dan optimistik dalam menerima Pluralisme Agama sebagai hokum Tuhan.”

h. Dr. Luthfi Assyaukanie, dosen Universitas Paramadina, menulis di Harian Kompas: “Seorang fideis Muslim, misalnya, bisa merasa dekat kepada Allah tanpa melewati jalur shalat kerana ia bisa melakukannya lewat meditasi atau ritus-ritus lain yang biasa dilakukan dalam persemadian spiritual. Dengan demikian, pengalaman keagamaan hampir sepenuhnya independen daripada aturan-aturan formal agama. Pada gilirannya, perangkat dan konsep-konsep agama seperti kitab suci, nabi, malaikat, dan lain-lain tak terlalu penting lagi kerana yang lebih penting adalah bagaimana seseorang bisa menikmati spiritualiti dan mentransendenkan dirinya dalam lompatan iman yang tanpa batas itu.” (Kompas, 3/9/2000).

i. Nuryamin Aini, Dosen Fak. Syariah UIN Jakarta: “Tapi ketika saya mengatakan agama saya benar, saya tidak punya hak untuk mengatakan bahawa agama orang lain salah, apalagi kemudian menyalah-nyalahkan atau memaki-maki.”(13)

Yang perlu diperhatikan oleh umat Islam, khususnya kalangan lembaga pendidikan Islam, adalah bahawa hampir seluruh LSM dan projek yang dibiayai oleh LSM-LSM Barat, seperti The Asia Foundation, Ford Foundation, adalah mereka yang bergerak dalam penyebaran fahaman Pluralisme Agama. Itu misalnya bias dilihat dalam artikel-artikel yang diterbitkan oleh Jual Tashwirul Afkar (Diterbitkan oleh Lakpesdam NU dan The Asia Foundation), dan Jurnal Tanwir (diterbitkan oleh Pusat Studi Agama dan Peradaban Muhammadiyah dan The Asia Foundation). Mereka bukan saja menyebarkan fahaman ini secara asungan, tetapi memiliki program yang sistematis untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam yang saat ini masih mereka anggap belum inklusif-pluralis.

Sebagai contoh, Jurnal Tashwirul Afkar edisi No. 11 tahun 2001, menampilkan laporan utama berjudul “Menuju Pendidikan Islam Pluralis”. Ditulis dalam Jurnal ini:

“Filosofi pendidikan Islam yang hanya membenarkan agamanya sendiri, tanpa mahu menerima kebenaran agama lain mesti mendapat kritik untuk selanjutnya dilakukan reorientasi. Konsep iman-kafir, muslim-nonmuslim, dan baik-benar (truth claim), yang sangat berpengaruh terhadap cara pandang Islam terhadap agama lain, mesti dibongkar agar umat Islam tidak lagi menganggap agama lain sebagai agama yang salah dan tidak ada jalan keselamatan. Jika cara pandangnya bersifat eksklusif dan intoleran, maka teologi yang diterima adalah teologi eksklusif dan intoleran, yang pada gilirannya akan merosak harmonisasi agama-agama, dan sikap tidak menghargai kebenaran agama lain. Kegagalan dalam mengembangkan semangat toleransi dan pluralisme agama dalam pendidikan Islam akan membangkitkan sayap radikal Islam.” (14)

Dalam jurnal ini juga, Rektor UIN Yogyakarta, Prof. Dr. Amin Abdullah menulis: “Pendidikan agama semata-mata menekankan keselamatan individu dankelompoknya sendiri menjadikan anak didik kurang begitu sensitif atau kurang begitu peka terhadap nasib, penderitaan, kesulitan yang dialami oleh sesama mereka, yang kebetulan memeluk agama lain. Hal demikian bisa saja terjadi oleh kerana adanya keyakinan yang tertanam kuat bahawa orang atau kelompok yangtidak seiman atau tidak seagama adalah “lawan” secara aqidah. (15)

3.1.1. Relativisme kebenaran

Fahaman Pluralisme Agama berakar pada fahaman relativisme akal dan relativisme iman. Banyak cendekiawan yang sudah termakan fahaman ini dan ikut-ikutan menjadi agen penyebar fahaman relativisme ini, khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Islam. Sebagai contoh, Prof. Dr. Azyumardi Azra, rektor UIN Jakarta menulis dalam sebuah buku terbitan Fatayat NU dan Ford Foundation:

“Islam itu memang pluralis, Islam itu banyak, dan tidak satu. Memang secara teks, Islam adalah satu tetapi ketika akal sudah mulai mencuba memahami itu, belum lagi mengaktualisasikan, maka kemudian pluraliti itu adalah suatu kenyataan dan tidak bisa dielakkan.” (16)

Di dalam buku yang sama, seorang beama M. Khairul Muqtafa juga menulis: “Penafsiran atas sebuah agama (Baca: Islam) sendiri tidaklah tunggal. Dengan demikian, upaya mempersamakan dan mempersatukan di bawah payung (satu tafsir) agama menjadi kontraproduktif. Dan pada gilirannya agama kemudian menjadi sangat relatif ketika dijelmakan dalam praktik kehidupan social sehari-hari.” (17)

Si penulis juga mempromosikan apa yang disebutnya sebagai “Relativisme epistemologis”, yang dimaksudkannya sebagai:

“Pada wilayah ini maka yang selayaknya menjadi pegangan adalah bahawa kita tidak dapat mengetahui kebenaran absolute. Kita dapat mengetahui kebenaran hanya sejauh itu absah bagi kita. Ertinya, kebenaran yang selama ini kita fahami tidak lain adalah kebenaran se pihak. (18)

Juga ada gagasan tentang “Relativisme teleologis”, yakni: “Dalam konteks ini, maka Islam tidak lain adalah satu jalan kebenaran di antara jalan-jalan kebenaran yang lain… ertinya jalan menuju kebenaran tidak selamanya dan mesti harus melalui jalan ‘agama’, tapi juga bisa memakai medium yang lain. Kerana sifatnya yang demikian maka Islam kemudian berdiri sejajar dengan praktik budaya yang ada. Tidak ada perbezaan yang signifikan kecuali hanya situalistik simbolistik. Sedangkan esensinya sama, yakni menuju kebenaran transendental.” (19)

Fahaman relativisme akal dan relativisme iman merupakan virus ganas semisal virus HIV yang berpotensi menggerogoti daya tahan keimanan seseorang, sebab dengan virus ini, maka seseorang menjadi tidak yakin dengan kebenaran agamanya sendiri. Daripada virus ini lahirlah sikap skeptis dan agnostik yang sentiasa ragu dengan kebenaran yang dicapainya. Jika seseorang sudah kehilangan keyakinan dalam hidupnya, maka hidupnya akan terus diumbang-ambingkan dengan berbagai-bagai ketidakpastian. Akar daripada nilai-nilai ini adalah fahaman sofisme di zaman Yunani kuno, yang kemudian dikembangkan dalam sistem pendidikan di Barat. Itu bisa dimengertikan, kerana peradaban Barat adalah peradaban tanpa wahyu, sehingga berbagai-bagai peraturan yang mereka hasilkan, tidak berlandaskan pada wahyu Allah, tetapi pada kesepakatan akal manusia. Kerana itu, sifatnya menjadi nisbi, relatif, dan fleksibel. Bisa berubah setiap saat, tergantung kesepakatan dan kemahuan manusia.

Di Indonesia, kerana liberalisme sedang memasuki masa puber, maka tampak ‘kemaruk’ (serakah) dan memalukan. Semua hal mahu diliberalkan. Ketika terjadi penolakan masyarakat terhadap kenaikan harga BBM, seorang aktivis Islam Liberal tanpa malu-malu menulis di jaringan inteet, bahawa jika kita menjadi liberal, maka harus ‘kaffah’, mencakup segala hal baik, politik, ekonomi, mahupun agama. Kaum liberal di Indonesia belum mahu belajar daripada pengalaman negara-negara Barat, di mana liberalisme telah berhujung kepada ketidakpastian nilai, danpada akhirnya membawa manusia kepada ketidakpastian dan kegersangan batin, kerana jauh daripada keyakinan dan kebenaran abadi.

Manusia-manusia yang hidup dalam alam fikiran liberal dan kenisbian nilai akan sentiasa mengalami kegelisahan hidup dan ketidak tenangan jiwa. Mereka, pada hakikatnya berada dalam kegelapan, jauh daripada cahaya kebenaran. Kerana itu, mereka akan sentiasa mengejar bayangan kebahagiaan, fatamorgana, melalui berbagai-bagai bentuk kepuasan fizik dan jasmaniah; ibarat meminum air laut, yang tidak pernah menghilangkan rasa haus. Lihatlah kehidupan manusia-manusia jenis ini. Semaklah ucapan-ucapan mereka; tengoklah keluarga mereka; cermatilah teman-teman dekat mereka. Tidak ada kebahagiaan yang abadi dapat mereka reguk, kerana mereka sudah membuang jauh-jauh keimanan dan keyakinan akan nilai-nilai yang abadi, kebenaran yang hakiki. Mereka tidak percaya lagi kepada wahyu Tuhan, dan menjadikan akal dan hawa nafsunya sendiri sebagai Tuhan. Al-Quran sudah menggambarkan sikap manusia pemuja nafsu ini:

“Maka pernahkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan mereka, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya (Allah mengetahui bahawa ia tidak dapat menerima petunjuk yang diberikan kepadanya), dan Allah telah menutup pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka siapakah yang memberinya petunjuk sesudah Allah? Maka mengapa kamu tidakmengambil pelajaran? (QS45:23).

Sayangnya, fahaman relativisme kebenaran ini sudah merupakan fahaman global, dan menjadi musuh semua agama. Sebab, fahaman ini menghancurkan keyakinan masing-masing pemeluk agama terhadap agamanya sendiri. Puluhan tahun lalu, penyair Pakistan, Dr. Mohd. Iqbal sudah mengingatkan, jika manusia kehilangan keyakinan, maka itu lebih buruk daripada perbudakan. “Conviction enabled Abraham to wade into the fire; conviction is an intoxicant which makes men self-sacrificing; Know you, oh victims of mode civilization! Lack of conviction is worse than slavery.” (20)

Bukan hanya Iqbal yang melihat bencana kehilangan keyakinan, sebagai bahaya besar bagi satu peradaban. Dengan nada yang hampir sama dalam melihat peradaban Barat, Paus Benediktus XVI juga mengingatkan bahaya relativisme bagi iman Katolik. la menyatakan, bahawa Eropah kini sedang dalam bahaya besar, kerana fahaman relativisme iman yang mendalam.(21)

Dalam bukunya, The Rise of Benedict XVI, (New York: Doubleday, 2005),J ohn L. Alien, J.R. menempatkan satu bab berjudul “Battling A Dictatorship of Relativism”. Menurut Kardinal Francis George daripada Chicago, terpilihnya Ratzinger sebagai Paus di awal abad ke-21 sangat tepat, sebab, setelah Komunis runtuh, saat ini tentangan terbesar dan tersulit justeru datang daripada peradaban Barat.

Benediktus XVI adalah orang yang datang daripada Barat dan memahami sejarah dan kebudayaan Barat. (Today the most difficult challenge comes from the West, and Benedict XVI is a man who comes from the West, who understands the history and the culture of the West). Tahun 1978, saat terpilihnya Paus Yohannes Paulus II, tentangan terberat yang dihadapi Katolik adalah Komunisme. Dan tahun 2005, para Kardinal telah memilih seorang Paus yang tepat untuk menghadapi apa yang disebut oleh Benediktus XVI sebagai “dictatorship of relativism” in the West”. (22 ) Dalam pengantar bukunya, “Reason, Relativism, and God”, (London: Macmillan Press Ltd, 1986), Joseph Runzo menulis: “We live in an age of relativism”. Juga dia katakan: “relativism has become a dominant element in twentieth century theology”. (23)

Jadi, fahaman Pluralisme Agama memang merupakan fahaman yang disebarkan untuk menghancurkan agama-agama yang ada. Salah satu aliran dalam fahaman ini, iaitu aliran Transendentalisme (Transendental Unity of Religion), berakar pada fahaman sinkretisme yang disebarkan oleh Freemasonry. Maka, pada tahun 2005, Majlis Ulama Indonesia (MUI) dengan tegas menyatakan, fahaman Pluralisme Agama bertentangan dengan ajaran Islam dan haram bagi umat Islam untuk menganut fahaman tersebut. Tahun 2000, Vatican mengeluarkan Dekrit ‘Dominus Jesus’ yang menolak fahaman Pluralisme Agama dan menegaskan kembali bahawa Jesus Kristus adalah satu-satunya pengantara keselamatan Ilahi dan tidak ada orang yang bias ke Bapa selain melalui Jesus. (24)

Dari kalangan Protestan, Pendeta Dr. Stevri Lumintang menulis buku yang sangat serius dalam menjelaskan bahaya fahaman Pluralisme Agama bagi agama-agama yang ada. Menurut Stevri, Teologi Abu-Abu adalah posisi teologi kaum pluralis. Kerana teologi yang mereka bangun merupakan integrasi daripada pelbagai warna kebenaran daripada semua agama, filsafat dan budaya yang ada di dunia. Al-kitab dipakai hanya sebagai salah satu sumber, itu pun dianggap sebagai mitos. Dan perpaduan multi kebenaran ini, lahirlah teologi abu-abu, iaitu teologi bukan hitam, bukan juga putih, bukan teologi Kristian, bukan juga teologi salah satu agama yang ada di dunia ini… Namun teologi ini sedang meracuni, baik agama Kristian, mahupun semua agama, dengan cara mencabut dan membuang semua unsur-unsur absolute yang diklaim oleh masing-masing agama.

Bahkan, tulis Stevri Lumintang: “…Theologia abu-abu (Pluralisme) yang kehadirannya seperti serigala berbulu domba, seolah-olah menawarkan teologi yang sempurna, kerana itu teologi tersebut mempersalahkan semua rumusan Teologi Tradisional yang selama ini dianut dan sudah berakar dalam gereja. Namun sesungguhnya Pluralisme sedang menawarkan agama baru…” (25)

Dalam pandangan Islam, fahaman Pluralisme Agama jelas-jelas merupakan fahaman syirik moden, kerana menganggap semua agama adalah benar. Padahal, Allah S.W.T telah menegaskan bahawa, “Hanya Islam agama yang benar dan diterima Allah S.W.T” (QS 3:19); dan “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima oleh Allah dan di Hari Kiamat nanti termasuk orang-orang yang merugi.” (QS3:85).

Keyakinan akan kebenaran ad-Dinul Islam sebagai satu-satunya agama yang benar dan diredhai Allah, adalah konsep yang sangat mendasar dalam Islam. Kerana itu, para cendekiawan dan ulama perlu menjadikan penanggulangan fahaman syirik moden ini sebagai perjuangan utama, agar jangan sampai 10 tahun lagi fahaman ini menguasai wacana pemikiran dan pendidikan Islam di Indonesia, sehingga akan lahir dosen-dosen, guru-guru agama, khatib, atau kyai yang mengajarkan fahaman persamaan agama ini kepada anak didik dan masyarakat.

3.2. Liberalisasi Al-Quran

Salah satu wacana yang berkembang pesat dalam tema Liberalisasi Islam di Indonesia saat ini adalah tema “Dekonstruksi Kitab Suci”. Di kalangan Yahudi dan Kristian, fenomena ini sudah berkembang pesat. Kajian “Biblical Criticism” atau studi tentang kritik Bible dan kritik teks Bible telah berkembang pesat di Barat. Dr. Eernst C. Colwell, daripada School of Theology Claremont, misalnya, selama 30 tahun menekuni studi ini, dan menulis satu buku berjudul “Studies in Methodology in Textual Criticism on the New Testatement”. Buku-buku karya Prof. Bruze M. Metzger, guru besar The New Testament di Princeton Theological Seminary, menunjukkan, bagaimana kuatnya tradisi kajian kritis terhadap Teks Bible. Begitu juga karya Werner George Kume, The New Testament: The History of the Investigation of Its Problem, (Nashville: Abingdon Press, 1972).

Pesatnya studi kritis Bible itu telah mendorong kalangan Kristian-Yahudi untuk “melirik” al-Quran dan mengarahkan hal yang sama terhadap al-Quran. Pada tahun 1927, Alphonse Mingana, pendeta Kristian asal Iraq dan guru besar di Universitas Birmingham Inggeris, mengumumkan bahawa “Sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan kritik teks terhadap al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristian yang berbahasa Yunani (The time has surely come to subject the text of the Qur’an to the same criticism as that to which we subject the Hebrew and Aramaic of the Jewish Bible, and the Greek of the Christian Scriptures).”

Hampir satu abad lalu, para orientalis dalam bidang studi al-Quran bekerja keras untuk menunjukkan bahawa al-Quran adalah kitab bermasalah sebagaimana Bible. Mereka tidak pernah berhasil. Tapi, anehnya, kini, imbauan itu sudah diikuti begitu banyak manusia daripada kalangan Muslim sendiri, termasuk yang ada di Indonesia. Sesuai fahaman pluralisme agama, maka semua agama harus didudukkan pada posisi yang sejajar, sedarjat, tidak boleh ada yang mengklaim lebih tinggi, lebih benar, atau paling benar sendiri. Begitu juga dengan pemahaman tentang Kitab Suci. Tidak boleh ada kelompok agama yang mengklaim hanya kitab sucinya saja yang suci.

Maka, projek liberalisasi Islam tidak akan lengkap jika tidak menyentuh aspek kesucian al-Quran. Mereka berusaha keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum Muslim, bahawa al-Quran adalah Kalamullah, bahawa al-Quran adalah satu-satunya Kitab Suci yang suci, bebas daripada kesalahan. Mereka mengabaikan bukti-bukti al-Quran yang menjelaskan tentang otentisitas al-Quran, dan kekeliruan daripada kitab-kitab agama lain. Ulil Abshar Abdalla, mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal menulis di Harian Jawa Pos, 11 Januari 2004: “Tapi, bagi saya all scriptures are miracles, semua kitab suci adalah mukjizat.” Jawa Pos, 11Jan. 2004).

Taufik Adnan Amal, dosen Ulumul Quran di IAIN Makasar, menulis satu makalah berjudul “Edisi Kritis al-Quran”, yang isinya menyatakan: “Uraian dalam paragraf-paragraf berikut mencuba mengungkapkan secara ringkas proses pemantapan teks dan bacaan al-Quran, sembari menegaskan bahawa proses tersebut masih meninggalkan sejumlah masalah mendasar, baik dalam ortografi teks mahupun pemilihan bacaannya, yang kita warisi dalam mushaf tercetak dewasa ini. Kerana itu, tulisan ini juga akan menggagas bagaimana menyelesaikan itu lewat suatu upaya penyuntingan Edisi Kritis al-Quran.”(26)

Taufik berusaha meyakinkan, bahawa al-Quran saat ini masih bermasalah, tidak kritis, sehingga perlu diedit lagi. Dosen itu pun menulis sebuah buku serius berjudul “Rekonstruksi Sejarah al-Quran” yang juga meragukan keabsahan dan kesempurnaan Mushaf Utsmani.(27) Penulis buku ini mencuba meyakinkan bahawa mushaf Utsmani masih bermasalah, dan tidak layak disucikan. Sayangnya, buku ini diberi kata pengantar oleh Prof. Dr. Quraish Shihab, tanpa memberikan kritik yang bererti. Dalam pengantaya, Quraish menulis, “Kasarnya, ada sejarah yang hilang untuk menjelaskan beberapa ayat atau susunan ayat al-Quran daripada surah al-Fatihah sampai surah al-Nas.”

Ada lagi sebuah tesis master di Universitas Islam Negeri Yogyakarta (Dulu: IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), ditulis oleh Aksin Wijaya, yang secara terang-terangan juga menghujah Kitab Suci al-Quran. Tesis itu sudah diterbitkan dalam sebuah buku berjudul: “Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan”, dan diberi kata pengantar dua orang doktor dalam bidang studi Islam, dosen di pascasarjana UIN Yogyakarta. Di dalam buku ini, misalnya, kita bisa menikmati hujahan terhadap al-Quran seperti kata-kata berikut ini:

“Setelah kita kembalikan wacana Islam Arab ke dalam dunianya dan melepaskan diri kita daripada hegemoni budaya Arab, kini saatnya, kita melakukan upaya pencarian pesan Tuhan yang terperangkap dalam Mushaf Utsmani, dengan suatu metode dan pendekatan baru yang lebih kreatif dan produktif. Tanpa menegasikan besarnya peranan yang dimainkan Mushaf Utsmani dalam mentransformasikan pesanan Tuhan, kita terlebih dahulu menempatkan Mushaf Utsmani itu setara dengan teks-teks lain. Dengan kata lain, Mushaf itu tidak sakral dan absolute, melainkan profan dan fleksibel. Yang sakral dan absolute hanyalah pesan Tuhan yang terdapat di dalamnya, yang masih dalam proses pencarian. Kerana itu, kini kita diperkenankan bermain-main dengan Mushaf tersebut, tanpa ada beban sedikitpun, beban sakralitas yang melingkupi perasaan dan fikiran kita.”(28)

Aktivis Islam Liberal, Dr. Luthfi Assyaukanie juga berusaha membongkar konsep dasar Islam tentang al-Quran: “Sebahagian besar kaum Muslim meyakini bahawa al-Quran daripada halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma’nan). Kaum Muslim juga meyakini bahawa al-Quran yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis sama seperti yang ada pada masa Nabi lebih daripada seribu empat ratus tahun silam. Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bahagian daripada formalisasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan sejarah penulisan al-Quran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi daripada perdebatan, pertentangan, intrik (tipu daya), dan reka.”(29)

Pada bahagian lain buku terbitan JIL tersebut, ada juga yang menulis, bahawa ‘Al-Quran adalah perangkap bangsa Quraisy’, seperti dinyatakan oleh Sumanto al-Qurtubhy, alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang:

“Di sinilah saya ingin menyebut teks-teks Islam klasik merupakan “perangkap bangsa Arab”, dan al-Quran sendiri dalam beberapa hal sebetulnya juga bisa menjadi “perangkap” bangsa Quraisy sebagai suku majoriti. Ertinya, bangunan kelslaman sebetulnya tidak lepas daripadaj aring-jaring kekuasaan Quraisy yang dulu berjuang keras untuk menunjukkan eksistensinya di tengah suku-suku Arab lain.” (30)

Sumanto pun secara terang-terangan menyatakan, bahawa al-Quran adalah karangan Muhammad:

“Dengan demikian, wahyu sebetulnya ada dua: “wahyu verbal” (“wahyu eksplisit” dalam bentuk redaksional bikinan Muhammad) dan “wahyu non-verbal” (“wahyu implisit” berupa konteks sosial waktu itu). (31)

Jadi, di berbagai-bagai penerbitan mereka, kalangan liberal dan sejenisnya memang sangat aktif dalam menyerang al-Quran, secara terang-terangan. Mereka sedang tidak sekadar berwacana, tetapi aktif menyebarkan pemikiran yang distruktif terhadap al-Quran. Itu bisa dilihat dalam buku-buku, artikel, dan jurnal yang mereka terbitkan. Sebagai contoh, Jurnal Justisia Fakultas Syariah, Edisi 23 Th XI, 2003, memuat tulisan yang secara terang-terangan menyerang al-Quran dan sahabat Nabi Muhammad s.a.w:

“Dalam studi kritik al-Quran, pertama kali yang perlu dilakukan adalah kritik historisitas al-Qur’an. Bahawa al-Quran kini sudah berupa teks yang ketika hadir bukan bebas nilai dan tanpa konteks. Justeru konteks Arab 14 abad silam telah mengkonstruk al-Quran. Adalah Muhammad s.a.w, seorang figure yang saleh dan berhasil mentransformasikan nalar kritisnya dalam berdialektika dengan realiti Arab. Namun, setelah Muhammad wafat, generasi pasca Muhammad terlihat tidak kreatif. Jangankan meniru kritisisme dan kreativiti Muhammad dalam memperjuangkan perubahan realitas zamannya, generasi pasca-Muhammad tampak kerdil dan hanya membebek pada apa saja yang asalkan itu dikonstruk Muhammad. Dari sekian banyak daftar ketidakkreatifan generasi pasca-Muhammad, yang paling mencelakakan adalah pembukuan al-Quran dengan dialek Quraisy, oleh Khalifah Usman Ibn Affan yang diikuti dengan klaim otoritas mushafnya sebagai mushaf terabsah dan membakar (menghilangkan pengaruh) mushaf-mushaf milik sahabat lain. Imbasan daripada sikap Usman yang tidak kreatif ini adalah terjadinya militarisme nalar Islam untuk tunduk/mensakralkan al-Quran produk Quraisy. Karenanya, wajar jika muncul asumsi bahawa pembukuan al-Quran hanya siasat bangsa Quraisy, melalui Usman, untuk mempertahankan hegemoninya atas masyarakat Arab [dan Islam]. Hegemoni itu tampak jelas terpusat pada ranah kekuasaan, agama dan budaya. Dan hanya orang yang mensakralkan al-Quranlah yang berhasil terperangkap siasat bangsa Quraisy tersebut.” (32)

Di dalam Jurnal Justisia edisi ini, Sumanto juga menulis sebuah artikel berjudul: “Kesucian Palsu Sebuah Kitab”. Maksudnya, al-Quran bukan kitab suci, tetapi kitab suci yang palsu.

Penyerangan terhadap al-Quran di lingkungan perguruan tinggi Islam merupakan hal yang sangat menyedihkan. Dulu, beratus-ratus tahun, wacana itu hanya berkembang di lingkungan orientalis Yahudi dan Kristian. Tetapi, saat ini, suara-suara yang menghujat al-Quran justeru lahir daripada lingkungan perguruan tinggi Islam, yang hanya menciplak dan mengulang-ulang lagu lama yang beratus-ratus tahun disuarakan para orientalis. Tentu, masalah ini tidak bias dianggap sepala, sebab akan menjadi peluru gratis bagi kalangan orientalis untuk menyerang Islam. Mereka sekarang tinggal ‘ongkang-ongkang kaki'( istrahat) dan menyaksikan kader-kadernya daripada kalangan umat Islam sendiri yang aktif menyerang al-Quran. Bahkan, kadang-kadang dilakukan dengan bahasa-bahasa yang lebih vulgar dan lebih biadab daripada para orientalis.

Cara yang lebih halus dan tampak akademik dalam menyerang al-Quran juga dilakukan dengan mengembangkan studi kritik al-Quran dan studi hermeneutika di Perguruan Tinggi Islam. Di antara tokoh-tokoh terkenal dalam studi ini adalah Prof. Dr. Nasr Hamid Abu Zayd dan Mohammed Arkoun. Buku-buku kedua tokoh ini sudah banyak diterjemahkan di Indonesia. Bahkan, Nasr Hamid yang terkenal dengan teorinya “al-Quran merupakan produk budaya Arab (muntaj tsaqafi) sudah memiliki sejumlah murid yang kini mengajar di sejumlah perguruan tinggi Islam di Indonesia. Salah satu murid yang dibanggakannya adalah Dr. Nur Kholish Setiawan, yang baru saja menerbitkan disertasinya dengan judul “Al-Qur’an Kitab Sastra Terbesar”. Buku Arkoun, Rethinking Islam, bahkan dijadikan buku rujukan utama dalam mata kuliah “Kajian Orientalisme terhadap al-Quran dan Hadith” di Program Tafsir Hadith Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta. Padahal, dalam buku ini, Arkoun secara terang-terangan menyesalkan, mengapa para cendekiawan Muslim tidak mahu mengikuti para orientalis Yahudi dan Kristian yang telah melakukan kritik terhadap Bible. Kajian hermeneutika sebagai metode tafsir pengganti ilmu tafsir klasik pun sudah menjadi mata kuliah wajib di Program Studi Tafsir Hadith UIN Jakarta dan sejumlah perguruan tinggi Islam lainnya. Padahal, metode ini jelas-jelas berbeza dengan ilmu tafsir dan bersifat dekonstruktif terhadap al-Quran dan syariat Islam.(33)

Kaum Muslim perlu merenungkan masalah ini dengan serius. Jika al-Quran dan ilmu tafsir al-Quran dirosak dan dihancurkan, apa lagi yang tersisa daripada Islam?

3.3. Liberalisasi Syariat Islam

Inilah aspek liberalisasi yang paling banyak muncul dan menjadi pembahasan dalam bidang liberalisasi Islam. Hukum-hukum Islam yang sudah qath’iy dan pasti, dibongkar dan dibuat hukum baru yang dianggap sesuai dengan perkembangan zaman. Seperti disebutkan oleh Dr. Greg Barton, salah satu program liberalisasi Islam di Indonesia adalah “kontekstualisasi ijtihad”. Para tokoh liberal biasanya memang menggunakan metode ‘kontekstualisasi’ sebagai salah satu mekanisme dalam merombak hukum Islam. Sebagai contoh, salah satu hukum Islam yang banyak dijadikan objek liberalisasi adalah hukum dalam bidang keluarga. Misalnya, dalam masalah perkahwinan antara agama, khususnya antara Muslimah dengan laki-laki non-Muslim.

Dalam sebuah tulisannya, Azyumardi Azra menjelaskan metode kontekstualisasi yang dilakukan oleh gerakan pembaruan Islam di Indonesia, yang dipelopori Nurcholish Madjid:

“Bila mendekati secara mendalam, dapat ditemui bahawa gerakan pembaruan yang terjadi sejak tahun tujuh puluhan memiliki komitmen yang cukup kuat untuk melestarikan ‘tradisi’ (turats) dalam satu bingkai analisis yang kritis dan sistematis… Pemikiran para tokohnya didasari kepedulian yang sangat kuat untuk melakukan formulasi metodologi yang konsisten dan universal terhadap penafsiran al-Quran; suatu penafsiran yang rasional yang peka terhadap konteks kultural dan historis daripada teks Kitab Suci dan konteks masyarakat moden yang memerlukan bimbingannya.” (34)

Menjelaskan pendapat Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra menulis, bahawa al-Quran menunjukkan bahawa risalah Islam – disebabkan universalitasnya – adalah selalu sesuai dengan lingkungan kultural apa pun, sebagaimana (pada saat turunnya) hal itu telah disesuaikan dengan kepentingan lingkungan semenanjung Arab. Kerana itu, al-Quran harus selalu dikontekstualisasikan dengan lingkungan budaya penganutnya, di mana dan kapan saja.”

Kontekstualisasi para penganut agama Islam ala Nurcholish Madjid ini tidaklah sama dengan teori asbabun nuzul yang difahami oleh kaum Muslimin selama ini dalam bidang ushul fiqih. Tetapi, Azyumardi Azra memberikan legitimasi dan pujian berlebihan terhadap metode Nurcholish Madjid:

“Cak Nur berpegang kuat kepada Islam tradisi hampir secara keseluruhan, pada tingkat esoteris dan eksoteris. Dengan sangat bagus dandistingtif, ia bukan sekadar berpijak pada aspek itu, namun ia juga memberikansejumlah pendekatan dan penafsiran baru terhadap tradisi Islam itu. Maka,hasilnya adalah apresiasi yang cukup mendalam terhadap syariah atau feqah dengan cara melakukan kontekstualisasi feqah dalam perkembangan zaman.”(35)

Apa yang dikatakan Azra sebagai bentuk apresiasi syariat atau feqah yang mendalam oleh Nurcholish Madjid adalah sebuah pujian yang sama sekali tidak berdasar. Nurcholish sama sekali tidak pernah menulis tentang metodologi feqah dan hanya melakukan dekonstruksi terhadap beberapa hukum Islam yang tidak disetujuinya. la pun hanya mengikuti jejak gurunya, Fazlur Rahman, yang menggunakan metode hermeneutika untuk menafsirkan al-Quran. (36) Misalnya, saat pidato di Taman Ismail Marzuki, 21 Oktober 1992, Nurcholish mempromosikan pendapat yang lemah tentang Ahlul Kitab, dengan mengatakan:

“Dan patut kita telitikan benar-benar pendapat Sayyid Muhammad Rasyid Ridla sebagaimana dikutip Abdul Hamid Hakim bahawa pengertian sebagai Ahlul Kitab tidak terbatas hanya kepada kaum Yahudi dan Kristian seperti tersebut dengan jelas dalam al-Quran serta kaum Majusi (pengikut Zoroaster) seperti disebutkan dalam sebuah hadith, tetapi juga mencakup agama-agama lain yang mempunyai satu bentuk kitab suci.”

Pendapat Nurcholish ini sangat lemah, dan telah dibuktikan kelemahannya, misalnya, oleh Dr. Muhammad Galib dalam disertasinya di IAIN Jakarta (yang juga diterbitkan oleh Paramadina) dan oleh Dr. Azizan Sabjan, dalam disertasinya di ISTAC, Malaysia. Namun, Nurcholish Madjid tidak peduli dengan koreksi dan kritik, dan tidak pernah merevisi pendapatnya. Prestasi kaum pembaru di Paramadina dalam merombak hukum Islam lebih jelas lagi dengan keluarnya buku Fiqih Lintas Agama, yang sama sekali tidak apresiatif terhadap syariat. Bahkan, merosak dan menghancurkannya. Misalnya, dalam soal perkahwinan antara agama, buku Fiqih Lintas Agama menulis:

“Soal peikahan laki-laki non-Muslim dengan wanita Muslim merupakan wilayah ijtihadi dan terikat dengan konteks tertentu, di antaranya konteks dakwah Islam pada saat itu. Yang mana jumlah umat Islam tidak sebesar saat ini, sehingga pernikahan antara agama merupakan sesuatu yang terlarang. Kerana kedudukannya sebagai hukum yang lahir atas proses ijtihad, maka amat dimungkinkan bila dicetuskan pendapat baru, bahawa wanita Muslim boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, atau pernikahan beza agama secara lebih luas amat diperbolehkan, apapun agama dan aliran kepercayaannya.” (37)

Jadi, pendapat Azyumardi Azra tentang hebatnya kaum penganut Islam yang dipelopori Nurcholish Madjid adalah sama sekali tidak terbukti. Sebagai salah seorang cendekiawan yang sangat popular, Azra telah melakukan kekeliruan besar dengan cara memberikan legitimasi berlebihan terhadap gerakan pembaharuan yang telah terbukti sangat destruktif terhadap khazanah pemikiran Islam. Dengan alasan melakukan kontekstualisasi, maka kaum liberal melakukan penghancuran dan perombakan terhadap hukum-hukum Islam yang sudah pasti (qath’iy), seperti hokum perkahwinan muslimah dengan laki-laki non-Muslim.

Prof. Musdah Mulia, tokoh feminis, juga melakukan perombakan terhadap hukum perkahwinan dengan alasan kontekstualisasi. Tapi, berbeza dengan buku Fiqih Lintas Agama, yang menekankan faktor jumlah umat Islam sebagai konteks yang harus dijadikan pertimbangan hukum, Musdah melihat konteks “peperangan” sebagai hal yang harus dijadikan dasar penetapan hukum. la menulis:

“Jika kita memahami konteks waktu turunnya ayat itu (QS 60:10.pen.), larangan ini sangat wajar mengingat kaum kafir Quraisy sangat memusuhi Nabi dan pengikutnya. Waktu itu konteksnya adalah peperangan antara kaum Mukmin dan kaum kafir. Larangan melanggangkan hubungan dimaksudkan agar dapat diidentifikasi secara jelas mana musuh dan mana kawan. Kerana itu, ayat ini harus difahami secara kontekstual. Jika kondisi peperangan itu tidak ada lagi, maka larangan dimaksud tercabut dengan sendirinya.” (38)

Nuryamin Aini, seorang dosen Fakultas Syariah UIN Jakarta, juga membuat pernyataan yang menggugat hukum perkahwinan antara agama:

“Maka daripada itu, kita perlu meruntuhkan mitos feqah yang mendasari larangan bagi perempuan muslim untuk menikah dengan laki-laki nonmuslim… Isu yang paling mendasar daripada larangan PBA (Perkahwinan Beza Agama – Red) adalah masalah sosial politik. Hanya saja, ketika yang berkembang kemudian adalah logika agama, maka konteks sosial-politik munculnya larangan PBA itu menjadi tenggelam oleh hegemoni cara berpikir teologis.” (39)

Entah kenapa, di Indonesia, yang majoriti Muslim, kaum Liberal berusaha keras untuk menghancurkan hukum perkahwinan antara agama ini, seolah-olah ada kebutuhan mendesak kaum Muslim harus kahwin dengan non-Muslim. Ulil Abshar Abdalla, di Harian Kompas edisi 18 November 2002, juga menulis: “Larangan kahwin beza agama, dalam Hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi.” Bahkan, lebih maju lagi, Dr. Zainun Kamal, dosen UIN Jakarta, kini tercatat sebagai ‘penghulu swasta’ yang menikahkan puluhan – mungkin sekarang sudah ratusan – pasangan beza agama.

Padahal, perlu dicatat, larangan muslimah menikah dengan laki-laki non-Muslim sudah menjadi Ijma’ ulama dengan dalil-dalil yang sangat meyakinkan (seperti QS 60:10). Buku Ensiklopedi Ijma’ yang diterjemahkan oleh KH Sahal Mahfudz juga menyebutkan bahawa soal ini termasuk masalah Ijma’ yang tidak menimbulkan perbezaan di kalangan kaum Muslim. Memorandum Organisasi Konferensi Islam (OKI) menyatakan: “Perkahwinan tidak sah kecuali atas persetujuan kedua belah pihak, dengan tetap memegang teguh keimanannya kepada Allah bagi setiap muslim, dan kesatuan agama bagi setiap muslimat.”

Demikianlah cara kaum liberal dalam mengubah hukum Islam, dengan mengubah metodologi ijtihad yang lebih menekankan aspek konteks, setimbang makna teks itu sendiri. Gagasan-gagasan mereka biasa berlangsung sangat liar tanpa batasan dan teori yang jelas. Mereka biasa menyusun teori konteks itu mengikut kehendak hati mereka. Itu bisa dilihat dalam Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam yang disusun oleh Tim Pangarusutamaan Gender Departemen Agama – yang telah dibubarkan – garapan Prof. Dr. Musdah Mulia dkk. Ada beberapa gagasan konsep hukum yang sangat kontroversial: Pertama, asas perkahwinan adalah monogami (pasal 3 ayat 1), dan perkahwinan di luar ayat 1 (poligami) adalah tidak sah dan harus dinyatakan batal secara hukum (pasal 3 ayat 2). Kedua, batas umur calon suami atau calon isteri minimal 19 tahun (pasal 7 ayat 1). Ketiga, perkahwinan beza agama antara muslim atau muslimah dengan orang non muslim disahkan (pasal 54). Keempat, calon suami atau isteri dapat mengawinkan dirinya sendiri (tanpa wali), asalkan calon suami atau isteri itu berumur 21 tahun, berakal sehat, dan rasyid/ rasyidah (pasal 7 ayat 2). Kelima, ijab-qabul boleh dilakukan oleh isteri-suami atau sebaliknya suami-isteri. (pasal 9). Keenam, masa iddah bukan hanya dimiliki oleh wanita tetapi juga untuk laki-laki. Masa iddah bagi laki-laki adalah seratus tiga puluh hari (pasal 88 ayat 7 (a)). Ketujuh, talak tidak dijatuhkan oleh pihak laki-laki, tetapi boleh dilakukan oleh suami atau isteri di depan Sidang Pengadilan Agama (pasal 59). Kedelapan, bahagian waris anak laki-laki dan wanita adalah sama (pasal 8 ayat 3, bahagian Kewarisan).(40)

Ketika hukum-hukum yang pasti diubah, maka terbukalah pintu untuk membongkar seluruh sistem nilai dan hukum dalam Islam. Dari IAIN Yogyakarta, muncul nama Muhidin M. Dahlan, yang menulis buku memoar berjudul “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur”, yang memuat kata-kata berikut:

“Pernikahan yang dikatakan sebagai pembirokrasian seks ini, tak lain tak bukan adalah lembaga yang berisi tong-tong sampah penampung sperma yang secara anarkis telah membelah-belah manusia dengan klaim-klaim yang sangat menyakitkan. Istilah pelacur dan anak haram pun muncul daripada rezim ini. Perempuan yang melakukan seks di luar lembaga ini dengan sangat kejam diposisikan sebagai perempuan yang sangat hina, dina, lacur, dan tak pantos menyandang harga diri. Padahal, apa bezanya pelacur dengan perempuan yang berstatus isteri? Posisinya sama. Mereka adalah penikmat dan pelayan seks laki-laki. Seks akan tetap bernama seks meski dilakukan dengan satu atau banyak orang. Tidak, pernikahan adalah konsep aneh, dan menurutku mengerikan untuk bisa ku percaya.”(41)

Dari Fakultas Syariah IAIN Semarang, bahkan muncul gerakan legalisasi perkahwinan homoseksual. Mereka menerbitkan buku berjudul: “Indahnya Kahwin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual”. Buku ini adalah kumpulan artikel di Jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN Semarang edisi 25, Th XI, 2004. Dalam buku ini ditulis strategi gerakan yang harus dilakukan untuk menggagalkan perkahwinan homoseksual di Indonesia:

“Bentuk riil gerakan yang harus dibangun adalah (1) mengusir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang merebut hak-haknya yang telah dirampas oleh negara, (2) memberi pemahaman kepada masyarakat bahawa apa yang terjadi pada diri kaum homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fitrah, sehingga masyarakat tidak mengucilkannya bahkan sebaliknya, masyarakat ikut terlibat mendukung setiap gerakan kaum homoseksual dalam menuntut hak-haknya, (3) melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual, (4) menyuarakan perubahan UU Perkahwinan No 1/1974 yang mendefinisikan perkahwinan harus antara laki-laki dan wanita.” (42)

Pada bahagian penutup buku tersebut, anak-anak fakultas Syariah IAIN Semarang tersebut menulis kata-kata yang tidak peah terbayangkan sebelumnya oleh seorang Muslim pun:

“Hanya orang primitif saja yang melihat perkahwinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih apapun, untuk melarang perkahwinan sejenis. Sebab, Tuhan pun sudah maklum, bahawa projeknya menciptakan manusia sudah berhasil bahkan kebablasan.”

4. Faktor Asing

Setelah Perang Dingin berakhir, Barat memiliki pandangan dan kebijakan khusus terhadap Islam. Di masa Perang Dingin, Komunisme dianggap sebagai musuh utama, sehingga seringkali Barat bersama-sama dengan Islam menghadapi komunisme, seperti yang terjadi di Afghanistan. Tetapi, setelah komunis runtuh, Barat harus menetapkan musuh baru, sebagai pengganti komunisme. Maka, para aktivis neo-konservatif (kelompok Kristian fundamentalis, Yahudi sayap kanan, politisi Republik, dan ilmuwan neo-orientalis), berhasil menjalankan agenda internasional pasca Perang Dingin. (43)

Kerana Islam dipandang sebagai ancaman potensi bagi Barat, atau Islam dipandang sebagai isu politik potensial untuk meraih kekuasaan di Barat, maka berbagai daya upaya dilakukan untuk ‘menjinakkan’ dan melemahkan Islam. Salah satu program yang kini dilakukan adalah dengan melakukan proses liberalisasi Islam besar-besaran di Indonesia dan dunia Islam lainnya. Proses liberalisasiIslam ini tentu saja masih menjadi bagian daripada ‘tiga cara’ pengokohan hegemoni Barat di dunia Islam, iaitu melalui program Kristenisasi, imperialisme moden, dan orientalisme.

David E. Kaplan menulis, bahawa sekarang AS menggelontorkan dana puluhan juta dollar dalam rangka kempennya untuk mengubah masyarakat Muslim, tetapi juga untuk mengubah Islam itu sendiri. Menurut Keplen, Gedung Putih telah menyetujui strategi rahsia, yang untuk pertama kalinya AS memiliki kepentingan nasional untuk mempengaruhi apa yang terjadi di dalam Islam. Sekurangnya di 24 negara Muslim, AS secara diam-diam telah mendanai radio Islam, acara-acara TV, kursus-kursus di sekolah Islam, pusat-pusat kajian, workshop politik, dan program-program lain yang mempromosikan Islam moden (versi AS). (Washington is plowing tens of millions of dollars into a campaign to influence not only Muslim societies but Islam itself… The white house has approved a classified strategy, dubbed Muslim world Outreach, that for the first time states that the US has a national security interest in influencing what happens within Islam…In at least two dozen countries, Washington has quietly funded Islamic radio, tv shows, coursework in Muslim schools, Muslim think tanks, political workshops, or other programs that promote moderate Islam). (44)

Salah satu LSM asing yang sangat aktif dalam menyebarkan fahaman liberalisme dan pluralisme agama di Indonesia adalah The Asia Foundation (TAP). Untuk menanamkan fahaman dan nilai-nilai inklusif dan pluralis di kalangan Muslim Indonesia, TAP telah mendukung berbagai kelompok berbasis Muslim sejak tahun 1970-an. TAP saat ini mendukung lebih daripada 30 LSM yang mempromosikan nilai-nilai Islam yang dapat menjadi basis bagi sistem politik demokrasi, non-kekerasan, dan toleransi beragama. Dalam bidang pendidikan warga kewarganegaraan, HAM, dan rekonsiliasi antara komunitas, kesetaraan gender, dan dialog antara agama, TAP juga bekerjasama dengan LSM-LSM tersebut untuk mempromosikan Islam sebagai katalisator demokratisasi di Indonesia. Program-program itu mencakup training bagi pemuka agama, studi tentang isu-isu gender dan HAM dalam Islam, pusat-pusat advokasi wanita, dan sebagainya.(45)

Organisasi-organisasi di Indonesia yang diberikan pendanaan oleh The Asia Foundation, di antaranya:

1. Yayasan Desantara (Pluralisme agama, penerbit Majalah Syir’ah)

2. Lembaga Studi Agama dan Demokrasi (Elsad) -(Pluralisme Agama dan Demokrasi)

3. Fahmina Institute – (Pluralisme Gender equality)

4. Indonesia Center for Civic Education – Demokrasi

5. International Center for Islam Pluralism (ICIP) -(Pluralisme agama)

6. Indonesia Conference on Religion and Peace -(Pluralisme agama)

7. Institut Arus Informasi (ISAI) – (Pluralisme dan Jurnalisme)

8. Jaringan Islam Liberal (JIL) – (Liberalisasi Pemikiran)

9. Paramadina – (Pluralisme agama)

10. Pusat Studi Antar Komunitas (Pusaka) Padang -Demokrasi

11. Pusat Studi Wanita -UIN – (Gender equality)

12. Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ) -(Gender equality)

13. Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) -(Penerbitan buku-buku pluralisme)

14. Lembaga Pengambangan Sumber Daya Manusia Nahdhatul Ulama (Pluralisme Agama, dekontsruksi syariah)

15. Pusat Studi Agama dan Peradaban Muhammadiyah (Pluralisme Agama)

16. Dan puluhan LSM serta organisasi sejenis lainnya.

Kebijaksanaan untuk mengubah kurikulum dan pemikiran Islam juga pernah diungkapkan oleh Menhan AS, Donald Rumsfeld. Dengan alasan membendung arus terorisme, Donald Rumsfeld, pada 16 Oktober 2003, meluncurkan sebuah memo:

“AS perlu menciptakan lembaga donor untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam yang radikal menjadi moden. Lembaga pendidikan Islam biasa lebih cepat menumbuhkan teroris baru, lebih cepat dibandingkan kemampuan AS untuk menangkap atau membunuh mereka. (Harian Republika, 3/12/2005).

Maka, dengan dukungan dana yang besar-besaran, AS dan sekutunya, serta kaki tangannya di Indonesia, berupa LSM-LSM asing, kemudian melakukan program perubahan dan penghancuran pemikiran Islam secara besar-besaran. Secara moral, mereka sebenarnya telah melakukan tindakan-tindakan yang sangat tidak manusiawi dan tidak beradab. Di tengah kemiskinan dan pemiskinan masyarakat Indonesia oleh kekuatan imperialisme global, mereka bukannya menolong Indonesia untuk mengurangi beban hutangnya, atau membantu pengatasi kemiskinan dan kemajuan ekonomi, tetapi malah menyebarkan racun fahaman Pluralisme Agama dan penghancuran syariat Islam, di tengah-tengah masyarakat Muslim Indonesia.

Jika mereka memang bermaksud baik, seharusnya, dana mereka itu digunakan untuk membantu permodalan pedagang-pedagang kecil, mengurangi beban hutang luar negeri, biasiswa anak-anak miskin terlantar, pembangunan air bersih bagi pondok pesantren, dan sebagainya, tanpa merosak aqidah dan keimanan kaum Muslim. Jika Barat penghargai pluralitas dan perbezaan antara umat manusia, mestinya mereka tidak memaksakan ideologi dan pandangan hidup mereka kepada umat manusia. Mestinya mereka menghargai keberagama dan membiarkan umat Islam hidup dengan pandangan hidupnya dan syariatnya sendiri. Tetapi, sayangnya, Barat saat ini terlalu ketakutan terhadap Islam (Islamofobia), sehingga apa yang dilakukan oleh lembaga-lembaga asing agen Barat di Indonesia ini jauh lebih buruk daripada apa yang dikerjakan oleh Belanda dan VOC di masa lalu, yang tidak ikut campur tangan dalam kurikulum pondok pesantren.

Tapi, sayangnya, ada saja sebagian kalangan umat dan lembaga Islam yang terpengaruh oleh iming-iming duniawi daripada lembaga-lembaga asing yang sedang bergentayangan mencari mangsa bersama para kaki tangannya di Indonesia.

5. Liberalisasi Di Perguruan Tinggi Islam

Jika Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, dan sebagainya menjadi pelopor liberalisasi Islam di organisasi Islam dan masyarakat, maka Prof. Dr. Harun Nasution melakukan liberalisasi Islam daripada dalam kampus-kampus Islam. Ketika menjadi rektor IAIN Ciputat, Harun mulai melakukan gerakan yang serius dan sistematis untuk melakukan perubahan dalam studi Islam. la mulai daripada mengubah kurikulum IAIN.

Berdasarkan hasil rapat rektor IAIN se lndonesia pada Agustus 1973 di Ciumbuluit Bandung, Departemen Agama RI memuruskan: buku “Islam Ditinjau daripada Berbagai Aspeknya” (IDBA) karya Prof. Dr. Harun Nasution direkomendasikan sebagai buku wajib rujukan mata kuliah Pengantar Agama Islam – mata kuliah komponen Institut yang wajib diambil oleh setiap mahasiswa LAIN.

Harun Nasution sendiri mengakui ketika itu tidak semua rektor menyetujuinya. Sejumlah rektor senior menentang keputusan tersebut. Tapi, entah kenapa, keputusan itu tetap dijalankan oleh pemerintah. Buku IDBA dijadikan buku rujukan dalam studi Islam. Kerana ada instruksi daripada pemerintah (Depag) yang menjadi panaung dan penanggung jawab IAIN-IAIN, maka materi dalam buku Harun Nasution itu pun dijadikan bahan kuliah dan bahan ujian untuk perguruan swasta yang menginduk kepada Departemen Agama.

Pada tanggal 3 Desember 1975, Prof. HM Rasjidi, Menteri Agama pertama, sudah menulis laporan rahsia kepada Menteri Agama dan beberapa eselon tertinggi di Depag. Dalam bukunya, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang ‘Islam Ditinjau daripada Berbagai Aspeknya, Prof. Rasjidi menceritakan isi suratya:

“Laporan Rahsia tersebut berisi kritik terhadap buku Sdr. Harun Nasution yang berjudul Islam Ditinjau daripada Berbagai Aspeknya. Saya menjelaskan kritik saya fasal demi fasal dan menunjukkan bahawa gambaran Dr. Harun tentang Islam itu sangat berbahaya, dan saya mengharapkan agar Kementerian Agama mengambil tindakan terhadap buku tersebut, yang oleh Kementerian Agama dan Direktorat Perguruan Tinggi dijadikan sebagai buku wajib di seluruh IAIN di Indonesia.” (46)

Selama satu tahun lebih surat Prof. Rasjidi tidak diperhatikan. Rasjidi akhirnya mengambil jalan lain untuk mengingatkan Depag, IAIN, dan umat Islam Indonesia pada umumnya. Setelah nasihatnya tidak diperhatikan, ia menerbitkan kritiknya terhadap buku Harun tersebut. Maka, tahun 1977, lahirlah buku Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tersebut.

Nasihat Prof. Rasjidi sangat penting untuk direnungkan saat ini, mengingat buku IDBA karya Harun Nasution itu memang penuh dengan berbagai kesalahan fatal, baik secara ilmiah mahupun kebenaran Islam. Misalnya, tentang hadis Nabi Muhammad s.a.w, Harun menulis : “Berlainan halnya dengan al-Quran, hadis tidak dikenal dicatat tidak dihafal di zaman Nabi… Kerana hadis tidak dihafal dan tidak dicatat daripada sejak semula, tidaklah dapat diketahui dengan pasti mana hadith yang betul-betul berasal daripada Nabi dan mana hadith yang dibuat-buat… tidak ada kesepakatan kata antara umat Islam tentang keorisinilan semua hadis daripada Nabi.” (47)

Sekilas saja mencermati kata-kata Harun tersebut jelas sangat keliru, sebab banyak sahabat yang sejak awal sudah mencatat dan menghafal hadis Nabi s.a.w. Juga, tidak benar, bahawa umat Islam tidak pernah bersepakat tentang otentisitas hadith Nabi. Kata-kata Harun itu jelas hanya upaya meragu-ragukan hadis Nabi sebagai pedoman kaum Muslim setelah al-Quran. Sebenarnya, tidaklah benar, hadis Nabi sejak awal tidak dicatat oleh para sahabat. Prof. Musthafa Azhami, dalam disertasinya di Cambridge, berjudul “Studies in Early Hadith Literature” membuktikan proses pencatatan hadis sejak zaman Nabi, disamping proses hafalannya.

Kesalahan yang sangat fatal daripada buku IDBA karya Harun adalah dalam menjelaskan tentang agama-agama. Di sini, Harun menempatkan Islam sebagai agama yang posisinya sama dengan agama-agama lain, sebagai evolving religion (agama yang berevolusi). Padahal, Islam adalah satu-satunya agama wahyu, yang berbeza dengan agama-agama lain, yang merupakan agama sejarah dan agama budaya (historical dan cultural religion). Harun menyebut agama-agama monoteis – yang dia istilahkan juga sebagai ‘agama tauhid’ – ada empat, iaitu Islam, Yahudi, Kristian, dan Hindu. Ketiga agama pertama, kata Harun, merupakan satu rumpun. Agama Hindu tidak termasuk dalam rumpun ini. Tetapi, Harun menambahkan, bahawa kemuian tauhid hanya dipelihara oleh Islam dan Yahudi. Tetapi kemurnian tauhid agama Kristian dengan adanya faham Trinitas, sebagai diakui oleh ahli-ahli perbandingan agama, sudah tidak terpelihara lagi.” (48)

Apakah benar agama Yahudi merupakan agama dengan tauhid murni sebagaimana Islam? Jelas pendapat Harun itu sangat tidak benar. Kalau agamaYahudi merupakan agama tauhid murni, mengapa dalam al-Quran dia dimasukkan kategori kafir Ahlul Kitab? Kesimpulan Harun itu jelas sangat mengada-ada. Sejak lama Prof. HM Rasjidi sudah memberikan kritik keras, bahawa: “Uraian Dr. Harun Nasution yang terselubung uraian ilmiyah sesungguhnya mengandung bahaya bagi generasi muda Islam yang ingin dipudarkan keimanannya.” (49)

Tetapi, kritik-kritik tajam Prof. Rasjidi seperti itu tidak digubris oleh petinggi Depag dan IAIN, sehingga selama 32 tahun, buku IDBA dijadikan buku wajib dalam mata kuliah pengantar Studi Islam di perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia. Padahal, kesalahannya begitu jelas dan fatal. Malah, bukannya bersikap kritis, banyak ilmuwan yang memuji-muji Harun Nasution secara tidak proporsional.

Prof. Dr. Said Agil al-Munawwar, misalnya, menulis: “Kerana itu, beliau perlu diteladani oleh para intelektual mahupun generasi berikutnya. Harun Nasution adalah sebagai salah seorang tokoh pembaru diantara sedikit tokoh yang ada, ia termasuk tokoh sentral dalam menyemaikan ide pembaruan bersama tokoh lainnya di Indonesia. Tokoh-tokoh elitis kaum pembaru dimaksud diantaranya; Nurcholish Madjid, Utomo Dananjaya, Usep Fathudin, Djohan Effendi, Ahmad Wahid, M. Dawam Rahardjo, Adi Sasono, Abdurrahman Wahid, Jalaluddin Rakhmat, Ahmad Syafii Ma’arif, Muhammad Amien Rais dan Kuntowijoyo… Harun sangat tepat disebut pemancang perubahan dalam tradisi akademik di lingkungan perguruan tinggi Islam Indonesia. (50)

Meskipun bukan bidangnya, Prof. Malik Fadjar juga ikut-ikutan memberikan pujian berlebihan dan tanpa sikap kritis terhadap Harun Nasution:

“Usaha dan kerja keras Harun Nasution dalam pengembangan Islamic Studies di Indonesia patut dihargai. Harun seyogianya dianugerahi sebagai tokoh Islamic Studies di Indonesia.” (51)

Secara kualitas dan teknik penulisan ilmiah, buku IDBA Harun Nasution itu sebenarnya juga sudah perlu direvisi total. Tapi, sekali lagi, kesalahan yang fatal itu dibiarkan saja selama 30 tahun lebih. Jika buku yang isinya mengandung ‘virus pemikiran’ itu diajarkan secara terus-menerus dalam rentang begitu lama, bisa difahami, jika kerosakan yang diakibatkan ‘virus’ itu sudah semakin parah dan menular ke mana-mana. Entah kenapa, masalah yang serius dan separah ini sekian lama dibiarkan oleh lembaga-lembaga Islam di Indonesia. Setahu penulis, hingga kini, belum ada lembaga Islam, khususnya perguruan tinggi Islam, yang secara rasmi meminta pemerintah menarik kembali buku IDBA Harun Nasution tersebut.

Penutup

Sebagai penduduk sebuah negeri Muslim terbesar, umat Islam Indonesia saat ini benar-benar sedang menghadapi ujian keimanan yang sangat berat. Di tengah berbagai krisis dan keterpurukan, umat Islam Indonesia direkayasa, dirusak, dan diserbu besar-besaran dengan fahaman-fahaman syirik mode dan berbagai pemikiran liberal yang membongkar habis-habisan sendi-sendi ajaran dan keyakinan umat Islam. Ironisnya, ujung tombak daripada penyebaran fahaman ini adalah para individu, tokoh, cendekiawan, ulama, dan lembaga yang secara formal menyandang nama Islam. Tentu saja ini tantangan yang sangat berat. Sebab, para ulama dan cendekiawan yang seharusnya diamanahkan unruk menjaga agama, justru banyak yang berbalik menjadi perusak agama. Inilah zaman fitnah, zaman edan, zaman yang tidak jelas lagi mana yang haq dan mana yang bathil.

Rasulullah s.a.w sudah pernah mengingatkan: “Yang merosak umatku adalah orang alim yang durhaka dan ahli ibadah yang bodoh. Seburuk-buruk manusia yang buruk adalah ulama yang buruk dan sebaik-baik manusia yang baik adalah ulama yang baik.” (HR Ad-Darimy).

Juga sabda beliau s.a.w:

“Termasuk di antara perkara yang aku khawatirkan atas umatku adalah tergelinciya orang alim (dalam kesalahan) dan silat lidahnya orang munafik tentang al-Quran.” (HR Thabrani dan lbn Hibban).

Di tengah ujian berat projek liberalisasi Islam secara besar-besaran ini, kita berdoa, mudah-mudahan tidak banyak kiyai, ulama, cendekiawan, atau mahasiswa, yang tergoda oleh berbagai bujukan dan tipuan duniawi yang ditujukan untuk menghancurkan kekuatan Islam daripada dalam. Pemikiran-pemikiran yang destruktif terhadap Islam, saat ini sering dikemas dengan bungkusan yang menarik dan dijajakan oleh pengasong-pengasong yang piawai dalam bersilat-lidah dan tak jarang juga berhujjah dengan al-Quran.

Bisa dikatakan, liberalisasi Islam di Indonesia, saat ini, adalah tantangan yang terbesar yang dihadapi semua komponen umat Islam, baik pondok pesantren, perguruan tinggi Islam, ormas Islam, lembaga ekonomi Islam, mahupun partai politik Islam. Sebab, liberalisasi Islam telah menampakkan wajah yang sangat jelas dalam menghancurkan Islam daripada asasnya, baik aqidah Islam, al-Quran, mahupun syariat Islam.

Tidak ada cara lain untuk membentengi keimanan kita, keluarga kita, dan jamaah kita, kecuali dengan meningkatkan ilmu-ilmu keislaman yang benar dan memohon pertolongan kepada Allah S. W.T. “Ya Allah, tunjukkanlah yang benar itu benar dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk mengikutinya; dan tunjukkanlah yang bathil itu bathil, dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk menghindarinya. Allahumma amin.” (Jakarta, 15 Mei 2006).

 

DAFTAR PUSTAKA
Abd A’la, Dari Neomodeisme ke Islam Liberal, (Jakarta: Paramadina,2003).
Abd. Muqsith Ghazali (ed), Ijtihad Islam Liberal, (Jakarta: JIL, 2005).
Abdul Halim (ed), Teologi Islam Rasional, (Ciputat Press, 2005).
Abdul Munir Mulkhan, Ajar an dan Jalan Kematian Syekh Sitijenar,(Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2002).
Ahmad Bazali bin Shafie, A Modernist Approach to the Quran: A Critical Study of the Hermeneutics of Fazlur Rahman (Disertasi doktoral di ISTAC-IIUMKuala Lumpur).
Aksin Wijaya, Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan, (Yogyakarta: SafiriaInsania Press, 2004).
Alwi Shihab, Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, (Bandung: Mizan, 1997).
Asymuni Abdurrahman, Memahami Makna Tekstual, Kontekstual, dan Liberal (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, tanpa tahun).
Charles Kimball, When Religion Becomes Evil, (New York: Harper San Francisco, 2002).
Djohan Efendi & Ismet Natsir Ahmad (ed), Pergolakan Pemikiran Islam: Catalan Harian Ahmad Wahib, Jakarta: LP3ES dan Freedom Institute, 2003, cetke-6).
Frans Magnis Suseno, Menjadi Saksi Kristus di Tengah Masyarakat Majemuk,Jakarta: Penerbit Obor, 2004).
George B. Grose dan Benjamin J. Hubbard, Tiga Agama Satu Tuhan,(Bandung: Mizan, 1999).
Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, (Jakarta: Paramadina,1999).
Harun Nasution, Islam Ditinjau daripada Berbagai Aspeknya, Jakarta: UIPress, cet. ke-6,1986).
Harvey Cox, The Secular City: Secularization and Urbanization in Theological Perspective, (New York: The Macmillan Company, 1967).
John L. Alien, JR, The Rise of Benedict XVI, (New York: Doubleday,2005).
Joseph Runzo, Reason, Relativism, and God, (London: Macmillan Press Ltd,1986).
Karel Steenbrink, “Patterns of Muslim-Christian Dialogue inIndonesia, 1965-1998”, dalam Jacques Waardenburg, Muslim-Christian Perceptions of Dialogue Today, (Leuven: Peeters, 2000).
Libertus Jehani, Paus Benediktus XVI, Palang Pintu Iman Katolik,Jakarta: Sinondang Media, 2005).
Luthfie Assyaukani (ed), Wajah Liberal Islam di Indonesia, Jakarta:JIL,2002).
M. Khalidul Adib Ach dkk., Indahnya Kahwin Sesama Jenis: Demokratisasidan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual, (Semarang: Lembaga Studi Sosial dan Agama/eLSA, 2005).
Martin E. Marty, ” Does Secular Theology Have a Future” dalam buku The Great Ideas Today, (New York: Encyclopaedia Britannica Inc, 1967).
Mazheruddin Siddiqi, The Image of the West in lqbal, (Lahore:Baz-i-Iqbal,1964).
Muhidin M. Dahlan, Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur: Memoar Luka Seorang Muslimah, Sripta Manent dan Melibas, 2005.
Mun’im Sirry (ed), Fiqih Lintas Agama Jakarta: Paramadina & The Asia Foundation), 2004).
Musdah Mulia, Muslimah Reformis, (Bandung: Mizan, 2005).
Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina,1995).
Rasjidi, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang ‘Islam Ditinjau daripada
Berbagai Aspeknya’, Jakarta: Bulan Bintang, 1977).
Stevri Indra Lumintang, Theologia Abu-Abu Pluralisms Agama : Tantangan dan
Ancaman Racun Pluralisme Dalam Teologi Kristian Masa Kini (Malang : Gandum Press, 2004).
Sururin (ed), Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam, Jakarta: Fatayat NU & Ford Foundation, 2005).
Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Quran (Yogyakarta: FKBA,2001).
Tomas Shivute, The Theology of Mission and Evangelism, (Helsinki: Finnish Missionary Society, 1980).
Zaitunah Subhan dkk (ed), Membendung Liberalisme, (Jakarta: Republika,2004).
*Penulis makalah, Adian Husaini, adalah Ph.D. Candidate di InteationalInstitute of Islamic Thought and Civilization-Inteational Islamic UniversityMalaysia (1STAC-HUM). Aktivitas di Indonesia saat ini adalah sebagai Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Wakil Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama Majlis Ulama Indonesia, dan juga anggota Dewan Direktur di Institut efor The Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS).
Rujukan:
1. Harvey Cox, The Secular City: Secularization andUrbanization in Theological Perspective, (New York: The Macmillan Company,1967), hal. 19-32.
2. Harvey Cox, The Secular City, hal. 15.
3. Lihat Martin E. Marty, ” Does Secular Theology Have aFuture” dalam buku The Great Ideas Today, (New York: Encyclopedia BritannicaInc,1967).
4. Lihat, Karel Steenbrink, “Pattes of Muslim-Christian Dialoguein Indonesia, 1965-1998”, dalam Jacques Waardenburg, Muslim-ChristianPerceptions of Dialogue Today, (Leuven:Peeters, 2000), hal. 85. Steenbrink menggunakan redaksi “The book The Secular City by Harvey Cox had a greatimpact in these young students.” Dalam Catatan Hariannya, Ahmad Wahib menulis: “Sejauh yang aku amati selama ini, agama terjadi telah kehilangan daya serap dalam masalah-masalah dunia. Petunjuk-petunjuk Tuhan tidak mampu kita sekularkan. Padahal, sekularisasi ajaran-ajaran Tuhan mutlak bagi kita kalau kita tidak ingin sekularitis.” Wahib adalah anak asuhan Romo Willenborg dan Romo H.C. Stolk SJ. Ketika itu ia sudah menyatakan dirinyas ebagai penganut pluralisme, sama dengan Romo Stolk. Wahib juga membahas tentang sekularisme dan sekularisasi. (Lihat, Djohan Efendi & Ismet Natsir Ahmad (ed), Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib, (Jakarta: LP3ES dan Freedom Institute, 2003, cet ke-6), hal. 37-41, 79. Tentang pengaruh Harvey Cox terhadap Nurcholish Madjid, lihat Greg Barton, Gagasan Islam Liberaldi Indonesia, (Jakarta: Paramadina, 1999)
5. Lihat Tomas Shivute, The Theology of Mission and Evangelism,(Helsinki: Finnish Missionary Society, 1980), hal. 42-50. Paus yang baru, Benediktus XVI, juga dikenal sebagai Paus yang konservatif dan anti-liberal. Sebelumnya, tahun 2000, dia termasuk seorang perumus penting doktrin “Dominus Jesus” yang menolak fahaman Pluralisme Agama dan menegaskan, jalan satu-satunya untuk menuju Bapa adalah melalui Jesus Kristus.
6. Tahun 1999, disertasi Greg Barton diterjemahkan ke dalam bahasaIndonesia oleh penerbit Paramadina, dengan judul Gagasan Islam Liberal diIndonesia. (1999:xxi).
7 Charles Kimball, When Religion Becomes Evil, (New York: Harper SanFrancisco, 2002.
8. Lihat Artikel Budhy Munawar Rahman berjudul “Basis Teologi Persaudaraan Antar-Agama”, dalam buku Wajah Liberal Islam di Indonesia(Jakarta: JIL, 2002), hal. 51-53.
9. Abdul Munir Mulkhan, Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar,(Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2002), hal. 44.
10. Lihat, buku Tiga Agama Satu Tuhan, (Bandung: Mizan, 1999), hal. xix.
11. Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta:Paramadina, 1995), hal. Ixxvii.
12 Alwi Shihab, Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, (Bandung: Mizan, 1997), hal. 108-109.
13. Lihat buku Ijtihad Islam Liberal, (Jakarta: JIL, 2005), hal. 223.
14 Khamami Zada, Membebaskan Pendidikan Islam: Dari Eksklusivisme menujuInklusivisme dan Pluralisme, Jual Tashwirul Afkar, edisi No. 11 tahun 2001.
15 M. Amin Abdullah, Pengajaran Kalam dan Teologi di Era Kemajmukan:Sebuah Tinjauan Materi dan Metode Pendidikan Agama, Jual Tashwirul Afkar,edisi No. 11 tahun 2001.
16 Sururin (ed), Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam, (Jakarta: FatayatNU&Ford Foundation, 2005), hal. 150.
17 Ibid, hal. 58.
18 Ibid, hal. 58.
19 Ibid, hal. 58-59.
20. Mazheruddin Siddiqi, The Image of the West in Iqbal, (Lahore: Baz-i-Iqbal,1964), hal. 51,71-72.
21 Lihat, Libertus Jehani, Paus Benediktus XVI, Palang Pintu ImanKatolik, (Jakarta: Sinondang Media, 2005), hal. 32.
22 John L. Alien, JR, The Rise of Benedict XVI, (New York: Doubleday,2005), hal. 165-166.
23 Joseph Runzo, Reason, Relativism, and God, (London: Macmillan PressLtd, 1986), hal. 10.
24 Frans Magnis Suseno, Menjadi Saksi Kristus di Tengah MasyarakatMajmuk, (Jakarta: Penerbit Obor, 2004.
25 Lihat sinopsis buku Theologia Abu-Abu, di www.gandummas.com; dan bukuStevri Indra Lumintang, Theologia Abu-Abu Pluralisme Agama : Tantangan danAncaman Racun Pluralisme Dalam Teologi Kristian Masa Kini (Malang : GandumPress, 2004), hal. 18-19.
26 Lihat, makalah Taufik Adnan Amal berjudul “Edisi Kritisal-Quran”, dalam buku Wajah Liberal Islam di Indonesia” (Jakarta:JIL, 2002), hal. 78).
27 Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Quran (Yogyakarta: FKBA,2001).
28 Aksi Wijaya, Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan” (Yogyakarta:Safiria Insania Press, 2004), hal. 123.
29. Luthfi Assyaukanie, “Merenungkan Sejarah A^ Muqsith Ghazali(ed), Ijtihad Islam Liberal, (Jakarta: Jann
30. Sumanfal-Qurtubhy, ”Membongkar Teks Ambigu”, dalam Abd. • Muqsith Ghazali (ed), Ijtihad Islam Liberal, (Jakarta: Jaringan IslamLiberal,
2005), hal. 17.
31. Jual Justisia Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang, edisi27/2005
32 Dalam Jual Justisia, Edisi 23 Th XI/2003 ini bisa dibaca berbagai-bagai artikel dengan judul-judul yang melecehkan al-Quran dan menghina para sahabat Nabi Muhammad s.a.w, seperti “al-Quran ‘Perangkap’ Bangsa Quraisy” oleh M. Khalidul Adib Ach, “Pembukuan Qur’an oleh Usman: Sebuah Fakta Kecelakaan Sejarah” oleh Tedi Kholiludin, “Kritik Ortodoksisme: Mempertanyakan Ketidakkreativan Generasi Pasca Muhammad”, oleh Iman Fadhilah el-Barbazzy ErHa, dan sebagainya.
33. Paparan lebih jauh tentang masalah liberalisasi al-Quran di PerguruanTinggi Islam, lihat, Adian Husaini, Hegemoni Kristian dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, (Jakarta: GIP, 2006).
34. Lihat, Pengantar Azyumardi Azra untuk buku Dr. Abd A’la, Dari Neomodeisme ke Islam Liberal, (Jakarta: Paramadina, 2003), hal. xi.
35 Ibid, hal.xii.
36 Kritik yang komprehensif terhadap metodologi hermeneutika Fazlur Rahman dilakukan oleh Ahmad Bazli bin Shafie dalam disertasinya di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur, yang berjudul “A Modernist Approach to the Quran: A Critical Study of the Hermeneutics of Fazlur Rahman.” Disertasi ini disupervisi oleh Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud yang juga anak bimbing langsung Fazlur Rahman di Chicago University. Berbeda dengan sejumlah murid Fazlur Rahman lainnya, seperti Nurcholish Madjid dan A. Syafii Ma’arif, Wan Mohd Nor mampu keluar daripada bingkai pemikiran Rahman dan mengkritik metodologi hermeneutika Fazlur Rahman untuk penafsiran al-Quran. Sebuah buku yang cukup bagus dalam mengkritik metode liberal dalam penafsiran al-Quran juga ditulis oleh pakar ushul Fiqih daripada Muhammadiyah, Prof. Asymuni Abdurrahman melalui bukunya yang berjudul Memahami Makna Tekstual, Kontekstual, dan Liberal (Yogyakarta: SuaraMuhammadiyah, tanpa tahun).
37 Mun’im Sirry (ed), Fiqih Lintas Agama, (Jakarta: Paramadina&TheAsia Foundation), 2004), hal. 164.
38 Musdah Mulia, Muslimah Reformis, (Bandung: Mizan, 2005), hal. 63.
39 Lihat, buku Ijtihad Islam Liberal, (Jakarta: Jaringan Islam Liberal,2005), hal. 220-221.
40 Sejumlah pakar hukum Islam di Indonesia, seperti Prof. Dr. Huzaemah Tahido Yanggo, MA, Prof. KH Ali Yafie, Prof. Dr. KH Ali Mustafa Yaqub, MA, Neng Djubaidah SH, MHum, Prof. Dr. Zaitunah Subhan dan Prof. Dr. Nabilah Lubis MA,telah memberikan kritik yang tajam terhadap CLD KHI versi Musdah ini. (Lihat,Zaitunah Subhan dkk (ed), Membendung Liberalisme, (Jakarta: Republika, 2004).
41. Buku: Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur. Memoar Luka Seorang Muslimah, Sripta Manent dan Melibas, 2005, cetakan ke-7.
42 Lihat buku Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual, (Semarang: Lembaga Studi Sosial dan Agama/eLSA, 2
43. Tentang strategi Barat dalam menghadapi Islam pasca Perang Dingin, lihat, Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristian ke Dominasi Sekular-Liberal, (Jakarta: GIP, 2005).
005), hal. 15.
44 David E. Kaplan, Hearts, Minds, and Dollars, www.usnews.com,4-25-2005.
45 http://www.asiafoundation.org/Locations/indonesia.html. Website TheAsia Foundation (www.asiafoundation.org) sampai dengan 24 Maret 2006, masih menulis tajuk pembukanya dengan kata-kata: “REFORMASI PENDIDIKAN DAN ISLAMDI INDONESIA.”
46. HM Rasjidi, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang ‘Islam Ditinjau daripada Berbagai Aspeknya’, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hal 13.
47 Harun Nasution, Islam Ditinjau daripada Berbagai Aspeknya, (Jakarta:UI Press, cet. ke-6, 1986), Jld 1, hal. 29.
48 Ibid, hal. 15-22.
49 HM Rasjidi, op.cit, hal. 24.
50 Abdul Halim (ed), Teologi Islam Rational, (Ciputat Press, 2005), hal.xvi-xvii.
51 Ibid, back cover.
* Kertas Kerja ini dibentangkan dalam Seminar Ancaman Islam Liberal anjuran Kerajaan Kelantan dan Gabungan Persatuan Profesional Kelantan, di Balai Islam, Lundang, Kota Baharu, Kelantan, pada 3hb. Jun, 2006.
Disiarkan semula dengan izin penerbit Dian Darulnaim Sdn Bhd

Check Also

KETIKA AL-QURAN DIINJAK LAGI

Oleh: Dr. Adian Husaini UMAT Islam Indonesia kembali digemparkan dengan kejadian pelecehan terhadap Kitab Suci …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *