Home / darulkautsar.net / Santapan Rohani / Cermin Keimanan / Di Negeri Ini, Allah Membayarkan Hutang
Klik Untuk Ke Laman Darulkautsar Indeks

Di Negeri Ini, Allah Membayarkan Hutang

Download PDF
Nota: Artikel di bawah adalah dalam Bahasa Indonesia dan hendaklah difahami dalam konteks bahasa tersebut
Oleh Sidiq Hidayat

 

Di tengah mulai gerahnya suhu musim panas tahun ini, malam itu di sebuah musholla kecil terasa sangat sejuk bukan karena mesin pengatur suhu ruangan yang diset sesuai aturan di sini 28 derajat, melainkan oleh kehadiran tiga jamaah baru dari Indonesia di kelompok pengajian trainee dekat kami tinggal.

Kali ini kami berkesampatan hadir bersama di pengajian ini, yang mayoritas adalah saudara-saudara kita dari berbagai propinsi di Indonesia yang tengah mencari kerja sebagai tenaga kontrak di pabrik.

Setelah semua berkumpul membentuk satu lingkaran besar, pembicara mulai membagikan kepada sekitar duapuluh limaan jamaah selembar kertas kecil ukuran A5 yang berisi kisah Abu Umamah. Tak seperti biasanya, dikisahkan, Abu Umamah nampak duduk termenung di masjid di luar waktu sholat. Lalu datang Rasulullah menyapa serta menanyakan apa yang sedang dia hadapi. Rupanya Abu Umamah bersedih karena sedang dalam tekanan menghadapi hutang.

Lalu Beliau Rasulullah mengajarkan sebuah doa agar dibaca tiap pagi dan petang untuk menghilangkan kesusahannya. Setelah Abu Umamah mengamalkan apa yang diajarkan Rasulullah, alhamdulillah atas pertolongan Allah semata, ia dibebaskan dari rasa sedih dan dibayarkan hutang-hutangnya. Demikianl ebih kurang kisah Abu Umamah dari sebuah hadist Abu Dawud yang disampaikan pembicara malam itu. Jamaah pun asyik khusyuk bersama-sama menghafal dua baris doa pendek tersebut.

Sejak kami memutuskan untuk tinggal bersama di negeri Momiji, isteriku sebagai orang terakhir yang diamanahi mengelola yayasan yangdibentuk bersama teman-teman di fakultasnya ketika kuliah dulu, memutuskan untuk membagi semua keuntungan yang diperoleh dari hasil usaha yayasan tersebut. Namun ada kendala beberpaa personilnya telah pindah keluar kota dan tidak meninggalkan kontak yang bisa dihubungi. Usaha maksimal dengan menghubungi relasi dan teman-teman lainnya pun telah dilakukan. Namun hanya beberpa yang kemudian membalas, dan kewajiban membayarkan hak mereka pun segera ditunaikan. Akhiya, isteri menyusul ke Jepang dan menyisakan tabungan uang “panas” milik mereka yang belum terbayarkan.

Hampir lima tahun sudah kami tinggal di sini, dan kami selalu ingat akan hutang yang belum bisa kami bayarkan. Suatu hari, saya melihat edvertisement di satu situs Muslim yang menawarkan cara seru belajar bersama Ayah dan Ibu. Tertarik dengan isinya, saya coba telusur lebih jauh dan menghubungi pemilik iklan online tersebut. Dalam beberapa menit kemudian dikirimlah informasi lengkap buku-buku Islam dan Al-Quran yang kaya waa waidan gambar yang saya inginkan untuk anak-anak saya. Kebetulan kami memang sepakat dalam mendidik anak lebih menekankan pada aspek membaca buku dan menjauhi media visual seperti TV, meski kami akui siaran TV untuk anak-anak di Jepang sangat bagus ketimbang TV Indonesia.

Mengingat harga paket buku-bukunya sangat mahal menurut kantong kami, apalagi jika dibandingkan dengan gaji PNS yang tiap bulan kami terima, bahkan masih lebih besar hampir tiga atau empat kalinya, maka saya perlu konsultasi dulu dengan Ibu anak-anakku sebelum memutuskan. Saya sodorkan print list buku yang akan kami beli lengkap dengan book advisoya kepada siapa kita menghubungi, karena buku ini memang tidak tersedia dan dijual langsung ditoko-toko buku seperti pada umumnya. Namun harus melalui direct selling dari book advisor tersebut. Sejenak mengamati judul buku-buku tersebut, tiba-tiba isteriku terperanjat. Saya sudah siap kecewa kalo sang Isteri tidak setuju karena harganya tidak terjangkau oleh kalangan kami, meskipun kami rasa manfaatnya akan luar biasa besar bagi perkembangan anak-anak kami kelak.

“Lho, ini seperti nama temenku di Yayasan!” katanya terperanjat. “…tapi bukankah dia seorang Dokter?” lanjut isteriku malah ragu dibuatnya sendiri. “Mungkin ngga nama ‘unik’ ini bias kembar dan dimiliki orang lain?” tanya isteriku meminta jawaban padaku yang juga sebenarnya tidak tahu.

“Kita tanyakan aja secara pribadi ke yang bersangkutan.” Jawabku meredakan keraguannya sambil membalas email dari book advisor tersebut.

Alhmadulillah, Allah masih membukakan pintu yang tidak kami sangka sebelumnya untuk membayar hutang. Meski telah “dilupakan” oleh yang punya uang, kami tetep menyimpan uang dan catatan hutang kami secara rapi, sehingga suatu saat tatkala Allah ta’ala berkehendak dan berkenan membukakan jalan untuk membayar hutang, kami bisa segera tunaikan tanpa harus menunda.

Kami tak ingin doa-doa kami tertahan gara-gara kedzaliman kami punya hutang yang sanggup dibayar tapi belum kami tunaikan.

Kami semua juga tidak ingin ketika meninggal ruh kami itu tergantung dengan hutangnya sampai hutang itu dilunasi oleh ahli waris kami, atau tak ada yang menyolatkan jenazah kami sebagaimana Rosulullah juga tidak mau mensholati jenazah karena masih ada hutang yang belum terbayar. Kami juga tak ingin pahala-pahala amal yang kami kumpulkan sedikit demi sedikit, tiba-tiba di akherat diambil untuk membayar hutang yang terbawa mati. Apalagi kami merasa sangat sedikit beramal dan belum cukup. Itu pun juga belum tentu diterima. Atau, kami tak ingin saat menghadap Allah ‘Azza wajalla dianggap sebagai pencuri karena berniat untuk tidak melunasi hutang. Naudzubillahimindzalik.

Begitu yang kami ketahui dari berbagai kumpulan hadist tentang hutang. Dalam hadits yang lain, bahkan semulia-mulianya orang mati, yaitu orang yang mati syahid pun, tidak bisa langsung masuk syurga apabila masih menyisakan hutang. Disebutkan bahwasanya Rasulullah bersabda, “Akan diampuni semua dosa orang yang mati syahid, kecuali hutangnya (yang belum dibayar).” (HR Muslim).

Semoga kita terhindar dari tekanan hutang dan hutang yangtak terbayar.

”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.”(HR Abu Dawud4/353)

Catatan:

Hadits-hadits di atas dikutip dari Kitab Hadits Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam, oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Ashqolani menggunakan software HadistWeb, kumpulan dan referensi belajar hadits. HaditsWeb disusun oleh Sofyan Efendi.

Download PDF

Check Also

Seorang Miskin Membangun Masjid Paling Aneh di Dunia

Bentuknya boleh sederhana, namun jamaah sudah berdatangan dari penjuru desa sebelum waktu shalat masuk Mungkin …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *