Darulkautsar.net - Islam, aqidah, bidaah, syariat, sirah - http://www.darulkautsar.net
Islam Liberal > Semasa > Fakta Dan Data Liberalisasi Islam Di Indonesia - http://www.darulkautsar.netarticle.php?ArticleID=447

5. Liberalisasi Di Perguruan Tinggi Islam

 

Jika Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, dan sebagainya menjadi pelopor liberalisasi Islam di organisasi Islam dan masyarakat, maka Prof. Dr. Harun Nasution melakukan liberalisasi Islam daripada dalam kampus-kampus Islam. Ketika menjadi rektor IAIN Ciputat, Harun mulai melakukan gerakan yang serius dan sistematis untuk melakukan perubahan dalam studi Islam. la mulai daripada mengubah kurikulum IAIN.

 

Berdasarkan hasil rapat rektor IAIN selndonesia pada Agustus 1973 di Ciumbuluit Bandung, Departemen Agama RI memuruskan: buku "Islam Ditinjau daripada Berbagai Aspeknya" (IDBA) karya Prof. Dr. Harun Nasution direkomendasikan sebagai buku wajib rujukan mata kuliah Pengantar Agama Islam - mata kuliah komponen Institut yang wajib diambil oleh setiap mahasiswa LAIN.

 

Harun Nasution sendiri mengakui ketika itu tidak semua rektor menyetujuinya. Sejumlah rektor senior menentang keputusan tersebut. Tapi, entah kenapa, keputusan itu tetap dijalankan oleh pemerintah. Buku IDBA dijadikan buku rujukan dalam studi Islam. Kerana ada instruksi daripada pemerintah (Depag) yang menjadi panaung dan penanggung jawab IAIN-IAIN, maka materi dalam buku Harun Nasution itu pun dijadikan bahan kuliah dan bahan ujian untuk perguruan swasta yang menginduk kepada Departemen Agama.

 

Pada tanggal 3 Desember 1975, Prof. HM Rasjidi, Menteri Agama pertama, sudah menulis laporan rahsia kepada Menteri Agama dan beberapa eselon tertinggi di Depag. Dalam bukunya, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang 'Islam Ditinjau daripada Berbagai Aspeknya, Prof. Rasjidi menceritakan isi suratya:

 

"Laporan Rahsia tersebut berisi kritik terhadap buku Sdr. Harun Nasution yang berjudul Islam Ditinjau daripada Berbagai Aspeknya. Saya menjelaskan kritik saya fasal demi fasal dan menunjukkan bahawa gambaran Dr. Harun tentang Islam itu sangat berbahaya, dan saya mengharapkan agar Kementerian Agama mengambil tindakan terhadap buku tersebut, yang oleh Kementerian Agama dan Direktorat Perguruan Tinggi dijadikan sebagai buku wajib di seluruh IAIN di Indonesia." (46)

 

Selama satu tahun lebih surat Prof. Rasjidi tidak diperhatikan. Rasjidi akhirnya mengambil jalan lain untuk mengingatkan Depag, IAIN, dan umat Islam Indonesia pada umumnya. Setelah nasihatnya tidak diperhatikan, ia menerbitkan kritiknya terhadap buku Harun tersebut. Maka, tahun 1977, lahirlah buku Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tersebut.

 

Nasihat Prof. Rasjidi sangat penting untuk direnungkan saat ini, mengingat buku IDBA karya Harun Nasution itu memang penuh dengan berbagai kesalahan fatal, baik secara ilmiah mahupun kebenaran Islam. Misalnya, tentang hadis Nabi Muhammad s.a.w, Harun menulis : "Berlainan halnya dengan al-Quran, hadis tidak dikenal dicatat tidak dihafal di zaman Nabi... Kerana hadis tidak dihafal dan tidak dicatat daripada sejak semula, tidaklah dapat diketahui dengan pasti mana hadith yang betul-betul berasal daripada Nabi dan mana hadith yang dibuat-buat... tidak ada kesepakatan kata antara umat Islam tentang keorisinilan semua hadis daripada Nabi." (47)

 

Sekilas saja mencermati kata-kata Harun tersebut jelas sangat keliru, sebab banyak sahabat yang sejak awal sudah mencatat dan menghafal hadis Nabi s.a.w. Juga, tidak benar, bahawa umat Islam tidak pernah bersepakat tentang otentisitas hadith Nabi. Kata-kata Harun itu jelas hanya upaya meragu-ragukan hadis Nabi sebagai pedoman kaum Muslim setelah al-Quran. Sebenarnya, tidaklah benar, hadis Nabi sejak awal tidak dicatat oleh para sahabat. Prof. Musthafa Azhami, dalam disertasinya di Cambridge, berjudul "Studies in Early Hadith Literature" membuktikan proses pencatatan hadis sejak zaman Nabi, di samping proses hafalannya.

 

Kesalahan yang sangat fatal daripada buku IDBA karya Harun adalah dalam menjelaskan tentang agama-agama. Di sini, Harun menempatkan Islam sebagai agama yang posisinya sama dengan agama-agama lain, sebagai evolving religion (agama yang berevolusi). Padahal, Islam adalah satu-satunya agama wahyu, yang berbeza dengan agama-agama lain, yang merupakan agama sejarah dan agama budaya (historical dan cultural religion). Harun menyebut agama-agama monoteis -yang dia istilahkan juga sebagai 'agama tauhid' - ada empat, iaitu Islam, Yahudi, Kristian, dan Hindu. Ketiga agama pertama, kata Harun, merupakan satu rumpun. Agama Hindu tidak termasuk dalam rumpun ini. Tetapi, Harun menambahkan, bahawa kemurnian tauhid hanya dipelihara oleh Islam dan Yahudi. Tetapi kemurnian tauhid agama Kristian dengan adanya faham Trinitas, sebagai diakui oleh ahli-ahli perbandingan agama, sudah tidak terpelihara lagi." (48)

 

Apakah benar agama Yahudi merupakan agama dengan tauhid murni sebagaimana Islam? Jelas pendapat Harun itu sangat tidak benar. Kalau agama Yahudi merupakan agama tauhid murni, mengapa dalam al-Quran dia dimasukkan kategori kafir Ahlul Kitab? Kesimpulan Harun itu jelas sangat mengada-ada. Sejak lama Prof. HM Rasjidi sudah memberikan kritik keras, bahawa: "Uraian Dr. Harun Nasution yang terselubung uraian ilmiyah sesungguhnya mengandung bahaya bagi generasi muda Islam yang ingin dipudarkan keimanannya." (49)

Tetapi, kritik-kritik tajam Prof. Rasjidi seperti itu tidak digubris oleh petinggi Depag dan IAIN, sehingga selama 32 tahun, buku IDBA dijadikan buku wajib dalam mata kuliah pengantar Studi Islam di perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia. Padahal, kesalahannya begitu jelas dan fatal. Malah, bukannya bersikap kritis, banyak ilmuwan yang memuji-muji Harun Nasution secara tidak proporsional.

 

Prof. Dr. Said Agil al-Munawwar, misalnya, menulis: "Kerana itu, beliau perlu diteladani oleh para intelektual mahupun generasi berikutnya. Harun Nasution adalah sebagai salah seorang tokoh pembaru diantara sedikit tokoh yang ada, ia termasuk tokoh sentral dalam menyemaikan ide pembaruan bersama tokoh lainnya di Indonesia. Tokoh-tokoh elitis kaum pembaru dimaksud diantaranya; Nurcholish Madjid, Utomo Dananjaya, Usep Fathudin, Djohan Effendi, Ahmad Wahid, M. Dawam Rahardjo, Adi Sasono, Abdurrahman Wahid, Jalaluddin Rakhmat, Ahmad Syafii Ma'arif, Muhammad Amien Rais dan Kuntowijoyo... Harun sangat tepat disebut pemancang perubahan dalam tradisi akademik di lingkungan perguruan tinggi Islam Indonesia. (50)

 

Meskipun bukan bidangnya, Prof. Malik Fadjar juga ikut-ikutan memberikan pujian berlebihan dan tanpa sikap kritis terhadap Harun Nasution:

 

"Usaha dan kerja keras Harun Nasution dalam pengembangan Islamic Studies di Indonesia patut dihargai. Harun seyogianya dianugerahi sebagai tokoh Islamic Studies di Indonesia." (51)

Secara kualitas dan teknik penulisan ilmiah, buku IDBA Harun Nasution itu sebenarnya juga sudah perlu direvisi total. Tapi, sekali lagi, kesalahan yang fatal itu dibiarkan saja selama 30 tahun lebih. Jika buku yang isinya mengandung 'virus pemikiran' itu diajarkan secara terus-menerus dalam rentang begitu lama, bisa difahami, jika kerosakan yang diakibatkan ‘virus' itu sudah semakin parah dan menular ke mana-mana. Entah kenapa, masalah yang serius dan separah ini sekian lama dibiarkan oleh lembaga-lembaga Islam di Indonesia. Setahu penulis, hingga kini, belum ada lembaga Islam, khususnya perguruan tinggi Islam, yang secara rasmi meminta pemerintah menarik kembali buku IDBA Harun Nasution tersebut.

 

 

Penutup

 

Sebagai penduduk sebuah negeri Muslim terbesar, umat Islam Indonesia saat ini benar-benar sedang menghadapi ujian keimanan yang sangat berat. Di tengah berbagai krisis dan keterpurukan, umat Islam Indonesia direkayasa, dirusak, dan diserbu besar-besaran dengan fahaman-fahaman syirik modern dan berbagai pemikiran liberal yang membongkar habis-habisan sendi-sendi ajaran dan keyakinan umat Islam. Ironisnya, ujung tombak daripada penyebaran fahaman ini adalah para individu, tokoh, cendekiawan, ulama, dan lembaga yang secara formal menyandang nama Islam. Tentu saja ini tantangan yang sangat berat. Sebab, para ulama dan cendekiawan yang seharusnya diamanahkan unruk menjaga agama, justru banyak yang berbalik menjadi perusak agama. Inilah zaman fitnah, zaman edan, zaman yang tidak jelas lagi mana yang haq dan mana yang bathil.

 

Rasulullah s.a.w sudah pernah mengingatkan: "Yang merosak umatku adalah orang alim yang durhaka dan ahli ibadah yang bodoh. Seburuk-buruk manusia yang buruk adalah ulama yang buruk dan sebaik-baik manusia yang baik adalah ulama yang baik." (HR Ad-Darimy).

Juga sabda beliau s.a.w:

 

"Termasuk di antara perkara yang aku khawatirkan atas umatku adalah tergelincirnya orang alim (dalam kesalahan) dan silat lidahnya orang munafik tentang al-Quran." (HR Thabrani dan lbn Hibban).

 

Di tengah ujian berat proyek liberalisasi Islam secara besar-besaran ini, kita berdoa, mudah-mudahan tidak banyak kyai, ulama, cendekiawan, atau mahasiswa, yang tergoda oleh berbagai bujukan dan tipuan duniawi yang ditujukan untuk menghancurkan kekuatan Islam daripada dalam. Pemikiran-pemikiran yang destruktif terhadap Islam, saat ini sering dikemas dengan bungkusan yang menarik dan dijajakan oleh pengasong-pengasong yang piawai dalam bersilat-lidah dan tak jarang juga berhujjah dengan al-Quran.

 

Bisa dikatakan, liberalisasi Islam di Indonesia, saat ini, adalah tantangan yang terbesar yang dihadapi semua komponen umat Islam, baik pondok pesantren, perguruan tinggi Islam, ormas Islam, lembaga ekonomi Islam, mahupun partai politik Islam. Sebab, liberalisasi Islam telah menampakkan wajah yang sangat jelas dalam menghancurkan Islam daripada asasnya, baik aqidah Islam, al-Quran, mahupun syariat Islam.

 

Tidak ada cara lain untuk membentengi keimanan kita, keluarga kita, dan jamaah kita, kecuali dengan meningkatkan ilmu-ilmu keislaman yang benar dan memohon pertolongan kepada Allah S. W.T. "Ya Allah, tunjukkanlah yang benar itu benar dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk mengikutinya; dan tunjukkanlah yang bathil itu bathil, dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk menghindarinya. Allahumma amin." (Jakarta, 15 Mei 2006).

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abd A'la, Dari Neomodernisme ke Islam Liberal, (Jakarta: Paramadina, 2003).

Abd. Muqsith Ghazali (ed), Ijtihad Islam Liberal, (Jakarta: JIL, 2005).

Abdul Halim (ed), Teologi Islam Rasional, (Ciputat Press, 2005).

Abdul Munir Mulkhan, Ajar an dan Jalan Kematian Syekh Sitijenar, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2002).

Ahmad Bazali bin Shafie, A Modernist Approach to the Quran: A Critical Study of the Hermeneutics of Fazlur Rahman (Disertasi doktoral di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur).

Aksin Wijaya, Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004).

Alwi Shihab, Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, (Bandung: Mizan, 1997).

Asymuni Abdurrahman, Memahami Makna Tekstual, Kontekstual, dan Liberal (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, tanpa tahun).

Charles Kimball, When Religion Becomes Evil, (New York: HarperSanFrancisco, 2002).

Djohan Efendi & Ismet Natsir Ahmad (ed), Pergolakan Pemikiran Islam: Catalan Harian Ahmad Wahib, Jakarta: LP3ES dan Freedom Institute, 2003, cet ke-6).

Frans Magnis Suseno, Menjadi Saksi Kristus di Tengah Masyarakat Majemuk, Jakarta: PenerbitObor, 2004).

George B. Grose dan Benjamin J. Hubbard, Tiga Agama Satu Tuhan, (Bandung: Mizan, 1999).

Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, (Jakarta: Paramadina, 1999).

Harun Nasution, Islam Ditinjau daripada Berbagai Aspeknya, Jakarta: UI Press, cet. ke-6,1986).

Harvey Cox, The Secular City: Secularization and Urbanization in Theological Perspective, (New York: The Macmillan Company, 1967).

John L. Alien, JR, The Rise of Benedict XVI, (New York: Doubleday, 2005).

Joseph Runzo, Reason, Relativism, and God, (London: Macmillan Press Ltd, 1986).

Karel Steenbrink, "Patterns of Muslim-Christian Dialogue in Indonesia, 1965-1998", dalam Jacques Waardenburg, Muslim-Christian Perceptions of Dialogue Today, (Leuven:Peeters, 2000).

Libertus Jehani, Paus Benediktus XVI, Palang Pintu Iman Katolik, Jakarta: Sinondang Media, 2005).

Luthfie Assyaukani (ed), Wajah Liberal Islam di Indonesia, Jakarta: JIL,2002).

M. Khalidul Adib Ach dkk., Indahnya Kahwin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual, (Semarang:Lembaga Studi Sosial dan Agama/eLSA, 2005).

Martin E. Marty," Does Secular Theology Have a Future" dalam buku The Great Ideas Today, (New York: Encyclopaedia Britannica Inc, 1967).

Mazheruddin Siddiqi, The Image of the West in labal, (Lahore: Baz-i-Iqbal,1964).

Muhidin M. Dahlan, Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur: Memoar Luka Seorang Muslimah, SriptaManent dan Melibas, 2005.

Mun'im Sirry (ed), Fiqih Lintas Agama Jakarta: Paramadina&The Asia Foundation), 2004).

Musdah Mulia, Muslimah Reformis, (Bandung: Mizan, 2005).

Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1995).

Rasjidi, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang 'Islam Ditinjau daripada

Berbagai Aspeknya', Jakarta: Bulan Bintang, 1977).

Stevri Indra Lumintang, Theologia Abu-Abu Pluralisms Agama : Tantangan dan

Ancaman Racun Pluralisme Dalam Teologi Kristian Masa Kini (Malang : Gandum Press, 2004).

Sururin (ed), Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam, Jakarta: Fatayat NU & Ford Foundation, 2005).

Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Quran (Yogyakarta: FKBA,2001).

Tomas Shivute, The Theology of Mission and Evangelism, (Helsinki: Finnish Missionary Society, 1980).

Zaitunah Subhan dkk (ed), Membendung Liberalisme, (Jakarta: Republika, 2004).

*Penulis makalah, Adian Husaini, adalah Ph.D. Candidate di International Institute of Islamic Thought and Civilization-International Islamic University Malaysia (1STAC-HUM). Aktivitas di Indonesia saat ini adalah sebagai Ketua Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (DDII), Wakil Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama Majlis Ulama Indonesia, dan juga anggota Dewan Direktur di Institute for The Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS).

 

 

Rujukan:

 

1. Harvey Cox, The Secular City: Secularization and Urbanization in Theological Perspective, (New York: The Macmillan Company, 1967), hal. 19-32.

2. Harvey Cox, The Secular City, hal. 15.

3. Lihat Martin E. Marty, " Does Secular Theology Have a Future" dalam

buku The Great Ideas Today, (New York: Encyclopedia Britannica Inc,1967).

4. Lihat, Karel Steenbrink, "Patterns of Muslim-Christian Dialogue in Indonesia, 1965-1998", dalam Jacques Waardenburg, Muslim-Christian Perceptions of Dialogue Today, (Leuven:Peeters, 2000), hal. 85. Steenbrink menggunakan redaksi "The book The Secular City by Harvey Cox had a great impact in these young students." Dalam Catatan Hariannya, Ahmad Wahib menulis: "Sejauh yang aku amati selama ini, agama terjadi telah kehilangan daya serap dalam masalah-masalah dunia. Petunjuk-petunjuk Tuhan tidak mampu kita sekularkan. Padahal, sekularisasi ajaran-ajaran Tuhan mutlak bagi kita kalau kita tidak ingin sekularitis." Wahib adalah anak asuhan Romo Willenborg dan Romo H.C. Stolk SJ. Ketika itu ia sudah menyatakan dirinya sebagai penganut pluralisme, sama dengan Romo Stolk. Wahib juga membahas tentang sekularisme dan sekularisasi. (Lihat, Djohan Efendi & Ismet Natsir Ahmad (ed), Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib, (Jakarta: LP3ES dan Freedom Institute, 2003, cet ke-6), hal. 37-41, 79. Tentang pengaruh Harvey Cox terhadap Nurcholish Madjid, lihat Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, (Jakarta: Paramadina, 1999)

5. Lihat Tomas Shivute, The Theology of Mission and Evangelism, (Helsinki: Finnish Missionary Society, 1980), hal. 42-50. Paus yang baru, Benediktus XVI, juga dikenal sebagai Paus yang konservatif dan anti-liberal. Sebelumnya, tahun 2000, dia termasuk seorang perumus penting doktrin "Dominus Jesus" yang menolak fahaman Pluralisme Agama dan menegaskan, jalan satu-satunya untuk menuju Bapa adalah melalui Jesus Kristus.

6. Tahun 1999, disertasi Greg Barton diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Paramadina, dengan judul Gagasan Islam Liberal di Indonesia. (1999:xxi).

7 Charles Kimball, When Religion Becomes Evil, (New York: Harper San Francisco, 2002.

8. Lihat Artikel Budhy Munawar Rahman berjudul "Basis Teologi Persaudaraan Antar-Agama", dalam buku Wajah Liberal Islam di Indonesia (Jakarta: JIL, 2002), hal. 51-53.

9. Abdul Munir Mulkhan, Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2002), hal. 44.

10. Lihat, buku Tiga Agama Satu Tuhan, (Bandung: Mizan, 1999), hal. xix.

11. Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1995), hal. Ixxvii.

12 Alwi Shihab, Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, (Bandung: Mizan, 1997), hal. 108-109.

13. Lihat buku Ijtihad Islam Liberal, (Jakarta: JIL, 2005), hal. 223.

14 Khamami Zada, Membebaskan Pendidikan Islam: Dari Eksklusivisme menuju Inklusivisme dan Pluralisme, Jurnal Tashwirul Afkar, edisi No. 11 tahun 2001.

15 M. Amin Abdullah, Pengajaran Kalam dan Teologi di Era Kemajmukan: Sebuah Tinjauan Materi dan Metode Pendidikan Agama, Jurnal Tashwirul Afkar, edisi No. 11 tahun 2001.

16 Sururin (ed), Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam, (Jakarta: Fatayat NU&Ford Foundation, 2005), hal. 150.

17 Ibid, hal. 58.

18 Ibid, hal. 58.

19 Ibid, hal. 58-59.

20. Mazheruddin Siddiqi, The Image of the West in Iqbal, (Lahore: Baz-i-Iqbal, 1964), hal. 51,71-72.

21 Lihat, Libertus Jehani, Paus Benediktus XVI, Palang Pintu Iman Katolik, (Jakarta: Sinondang Media, 2005), hal. 32.

22 John L. Alien, JR, The Rise of Benedict XVI, (New York: Doubleday, 2005), hal. 165-166.

23 Joseph Runzo, Reason, Relativism, and God, (London: Macmillan Press Ltd, 1986), hal. 10.

24 Frans Magnis Suseno, Menjadi Saksi Kristus di Tengah Masyarakat Majmuk, (Jakarta: Penerbit Obor, 2004.

25 Lihat sinopsis buku Theologia Abu-Abu, di www.gandummas.com; dan buku Stevri Indra Lumintang, Theologia Abu-Abu Pluralisme Agama : Tantangan dan Ancaman Racun Pluralisme Dalam Teologi Kristian Masa Kini (Malang : Gandum Press, 2004), hal. 18-19.

26 Lihat, makalah Taufik Adnan Amal berjudul "Edisi Kritis al-Quran", dalam buku Wajah Liberal Islam di Indonesia" (Jakarta: JIL, 2002), hal. 78).

27 Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Quran (Yogyakarta: FKBA, 2001).

28 Aksi Wijaya, Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan" (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004), hal. 123.

29. Luthfi Assyaukanie, "Merenungkan Sejarah A^ Muqsith Ghazali (ed), Ijtihad Islam Liberal, (Jakarta: Jann

30. Sumanfal-Qurtubhy, ''Membongkar Teks Ambigu", dalam Abd.

• Muqsith Ghazali (ed), Ijtihad Islam Liberal, (Jakarta: Jaringan Islam Liberal,

2005), hal. 17.

31. Jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang, edisi 27/2005

32 Dalam Jurnal Justisia, Edisi 23 Th XI/2003 ini bisa dibaca berbagai-bagai artikel dengan judul-judul yang melecehkan al-Quran dan menghina para sahabat Nabi Muhammad s.a.w, seperti "al-Quran 'Perangkap' Bangsa Quraisy" oleh M. Khalidul Adib Ach, "Pembukuan Qur'an oleh Usman: Sebuah Fakta Kecelakaan Sejarah" oleh Tedi Kholiludin, "Kritik Ortodoksisme: Mempertanyakan Ketidakkreativan Generasi Pasca Muhammad", oleh Iman Fadhilah el-Barbazzy ErHa, dan sebagainya.

33 Paparan lebih jauh tentang masalah liberalisasi al-Quran di PerguruanTinggi Islam, lihat, Adian Husaini, Hegemoni Kristian dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, (Jakarta: GIP, 2006).

34 Lihat, Pengantar Azyumardi Azra untuk buku Dr. Abd A'la, Dari Neomodernisme ke Islam Liberal, (Jakarta: Paramadina, 2003), hal. xi.

35 Ibid, hal.xii.

36 Kritik yang komprehensif terhadap metodologi hermeneutika Fazlur Rahman dilakukan oleh Ahmad Bazali bin Shafie dalam disertasinya di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur, yang berjudul "A Modernist Approach to the Quran: A Critical Study of the Hermeneutics of Fazlur Rahman." Disertasi ini disupervisi oleh Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud yang juga anak bimbing langsung Fazlur Rahman di Chicago University. Berbeda dengan sejumlah murid Fazlur Rahman lainnya, seperti Nurcholish Madjid dan A. Syafii Ma'arif, Wan Mohd Nor mampu keluar daripada bingkai pemikiran Rahman dan mengkritik metodologi hermeneutika Fazlur Rahman untuk penafsiran al-Quran. Sebuah buku yang cukup bagus dalam mengkritik metode liberal dalam penafsiran al-Quran juga ditulis oleh pakar ushul Fiqih daripada Muhammadiyah, Prof. Asymuni Abdurrahman melalui bukunya yang berjudul Memahami Makna Tekstual, Kontekstual, dan Liberal (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, tanpa tahun).

37 Mun'im Sirry (ed), Fiqih Lintas Agama, (Jakarta: Paramadina&The Asia Foundation), 2004), hal. 164.

38 Musdah Mulia, Muslimah Reformis, (Bandung: Mizan, 2005), hal. 63.

39 Lihat, buku Ijtihad Islam Liberal, (Jakarta: Jaringan Islam Liberal, 2005), hal. 220-221.

40 Sejumlah pakar hukum Islam di Indonesia, seperti Prof. Dr. Huzaemah Tahido Yanggo, MA, Prof. KH Ali Yafie, Prof. Dr. KH Ali Mustafa Yaqub, MA, Neng Djubaidah SH, MHum, Prof. Dr. Zaitunah Subhan dan Prof. Dr. Nabilah Lubis MA, telah memberikan kritik yang tajam terhadap CLD KHI versi Musdah ini. (Lihat, Zaitunah Subhan dkk (ed), Membendung Liberalisme, (Jakarta: Republika, 2004).

41. Buku: Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur. Memoar Luka Seorang Muslimah, SriptaManent dan Melibas, 2005, cetakan ke-7.

42 Lihat buku Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual, (Semarang:Lembaga Studi Sosial dan Agama/eLSA, 2

43. Tentang strategi Barat dalam menghadapi Islam pasca Perang Dingin, lihat, Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristian ke Dominasi Sekular-Liberal, (Jakarta: GIP, 2005).

005), hal. 15.

44 David E. Kaplan, Hearts, Minds, and Dollars, www.usnews.com, 4-25-2005.

45 http://www.asiafoundation.org/Locations/indonesia.html. Website The Asia Foundation (www.asiafoundation.org) sampai dengan 24 Maret 2006, masih menulis tajuk pembukanya dengan kata-kata: "REFORMASI PENDIDIKAN DAN ISLAM DI INDONESIA."

46. HM Rasjidi, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang 'Islam Ditinjau daripada Berbagai Aspeknya', (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hal 13.

47 Harun Nasution, Islam Ditinjau daripada Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, cet. ke-6, 1986), Jld 1, hal. 29.

48 Ibid, hal. 15-22.

49 HM Rasjidi, op.cit, hal. 24.

50 Abdul Halim (ed), Teologi Islam Rational, (Ciputat Press, 2005), hal. xvi-xvii.

51 Ibid, back cover.

 

* Kertas Kerja ini dibentangkan dalam Seminar Ancaman Islam Liberal anjuran Kerajaan Kelantan dan Gabungan Persatuan Profesional Kelantan, di Balai Islam, Lundang, Kota Baharu, Kelantan, pada 3hb. Jun, 2006.

 

Disiarkan semula dengan izin penerbit Dian Darulnaim Sdn Bhd