Darulkautsar.net - Islam, aqidah, bidaah, syariat, sirah - http://www.darulkautsar.net
Bahaya Syiah > Perincian Akidah Syiah > Sikap Syi`ah Terhadap Para Sahabat - http://www.darulkautsar.netarticle.php?ArticleID=444

2.    Kegembiraan Syi’ah akan matinya ( baca: syahidnya) Umar RA  dan menjadikan hari terbunuhnya beliau sebagai hari raya mereka.

 

Orang Syi’ah sangat senang dan gembira pada hari dimana Umar terbunuh,mereka menjadikan hari tersebut sebagai hari besar mereka dan mentahbiskan pembunuhnya, Abu Lu’lu’ah orang majusi sebagai muslim terbaik :

 

Muhammad bin Rustum At Thabari meriwayatkan dari Al Hasan bin Al Hasan As Samiri  bahwa ia berkata,” Aku dan Yahya bin Ahmad bin Juraij Al Baghdadi pergi menuju rumah Abu Ahmad bin Ishaq Al Baghdadi[84]  sahabat Imam Al Askari Alais salam di kota Qum. Lalu kami mengetuk pintu. Dari dalam rumah keluar seorang anak perempuan Irak. Kami pun menanyakan beliau padanya. Anak itu berkata,” Beliau dan keluarganya sedang sibuk karena hari ini adalah hari raya”. Kami berkata,” Subhanallah! Hari raya kami hanya ada empat: Iedul Fitri, Iedun Nahr, Al Ghadir[85] dan Jum’at?!. Ia berkata,” Tuanku Ahmad bin Ishaq meriwayatkan dari tuannya Al Askari dari ayahnya Ali bin Muhammad Alaihissalam bahwa hari ini adalah hari raya, hari raya terbaik menurut ahli bait dan para walinya…-ia bercerita tentang keluarnya Ahmad bin Ishaq kepada mereka dan riwayat dari Al Askari dari bapaknya dari Hudzaifah bin Al Yaman bahwa beliau menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pada hari ke-9 Rab’ul Awal dan menyebut-nyebut keutamaan hari itu pada beliau dan aib orang yang terbunuh dihari itu. Hudzaifah berkata,” Wahai Rasulullah, adakah umatmu yang merusak kehormatan ini?”. Beliau bersabda,” Aku telah mengebiri seorang munafik yang menzalimi ahli baitku, ia memberlakukan riba pada umatku, menyeru mereka pada dirinya, menjadi sombong atas umat sepeninggalku, menyesatkan manusia, merubah kitab dan sunnah….dan seterusnya hingga sampai pada perkataan..,” kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam masuk rumah Ummu Salamah dan akupun pulang tanpa menyisakan keraguan soal perkara syaikh kedua – yang dimaksud adalah Umar RA[86]- hingga aku melihatnya sepeninggal beliau Shollalahu ‘alahi wasallam membuka lebar pintu kejahatan, kembali pada kekufuran dan murtad serta mendistorsi Al Qur’an, lalu Allah mengabulkan do’a tuanku Fatimah atas munafik ini dan ia terbunuh di tangan Sang Pembunuh…”. Ia juga menyebutkan cerita bahwa dirinya masuk rumah Ali RA dan mengucapkan selamat atas terbunuhnya Umar  RA, dan pengkhabaran Ali bahwa hari raya ini memiliki 72 nama, diantaranya “Hari hilangnya bencana”, “Hari Huru-hara” dan “ Hari penyesalan si zalim” serta “ Hari kegembiraan Syi’ah”.[87]

 

Orang Syi’ah sangat menyayangi Abu Lu’lu’ah Al Majusi ini, mereka menganggapnya orang muslim yang mulia dan mengatakan bahwa ia membunuh Umar sebagai hukuman atas kezaliman dan penghinaan yang Umar lakukan terhadapnya.[88] Mereka menggelari Abu lu’lu’ah dengan “Baab Syujja’u Ad Dien” (Pintu keberanian bagi agama).[89]

  

Syi’ah Itsna Asyriyah menampakkan kegembiraan yang sangat dihari terbunuhnya Umar dengan menyanyikan lagu-lagu tentang kematian beliau radhiyallahu ‘anhu ditangan pembunuhnya. Pengarang Kitab “ Uqadu Ad Durur fie Baqri Batni Umar”  dalam satu bab ia berkata,” Pasal ke-empat, bab tentang wajibnya merayakan hari bahagia ini, hari ini adalah hari yang paling menggembirakan bagi orang Syi’ah yang ikhlas.- lalu ia menyebutkan syair yang dinyanyikan pada hari ini-:

 

Sekelumit kata yang jernih

dan lafal kalimat yang menggelora

ketika kesejahteraan

muncul di ufuk angan

desau angin silih berganti

dari pagi hingga sore hari

di hari terbunuhnya Umar Si Fajir

yang tak beriman pada Allah dan Hari akhir

penyulut bencana penebar kerusakan

hingga hari manusia dikumpulkan

keceriaan mengisi gelas-gelas kaca

dengan arak dari hulu sukma

di campur  lembutnya rasa gembira [90]

 

Kemudian ia melanjutkan dengan Syair panjang yang mengungkapkan rasa gembira di hari terbunuhnya Umar.[91]

 

Dari keyakinan Syi’ah ini tercium aroma busuk rasa dengki dan ta’ashub pada golongan Majusi . Sedang Abu Lu’lu’ah adalah orang majusi yang kafir, ia membunuh Umar karena ingin membalas dendam agama dan negerinya karena Umarlah yang menjadi penyebab matinya api majusi dan runtuhnya kerajaan mereka. Ia terpanggil rasa dengki pribadi – jika tidak boleh dikatakan ia disuruh seseorang- lalu membunuh Umar serta beberapa belas sahabat lainnya. Jadi pembelaan Syi’ah ini adalah bentuk pembelaan atas orang kafir : Ibnu Taimiyah menceritakan perihal kaum Syi’ah,” Oleh itu engkau lihat orang Syi’ah membela Abu Lu’lu’ah Si Majusi kafir, diantara mereka ada yang berkata,” Ya Allah ridhoilah Abu Lu’lu’ah dan himpunlah aku bersamanya”. Yang lain mengatakan,” Perbuatan Abu Lu’lu’ah setara dengan tindak kriminal yang telah dilakukan Umar. Abu Lu’lu’ah kafir menurut kesepakatan Ahli Islam. Ia orang majusi penyembah Api…, Ia membunuh Umar karena benci terhadap Islam dan pemeluknya demi membela agama Majusinya dan balas dendam terhadap Umar karena telah` menaklukkan negerinya, membunuh pembesarnya dan membagi-bagi harta mereka”.[92]

 

Apa yang saya sebutkan ini hanya sekelumit dari selaksa tuduhan yang ada dalam buku-buku mereka yang mengarah kepada sahabat mulia, sahabat yang paling dicintai Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam setelah Abu Bakar dan putrinya.[93]

 

 

Majlis Keenam

  

Sikap Syi’ah Itsna Asyriyah terhadap Abu Bakar dan Umar Radiyallahu 'Anhuma.

 

                        Ketiganya menyerbu dengan penuh ketangkasan

                        Rabb mereka senang jika mereka berpencaran

                        Hidup mereka tiada terpisahkan

                        Mati pun berkumpul tatkala dikuburkan

                        Tak seorang muslimpun yang memiliki mata pengelihatan

                        Mengingkari  yang ada pada mereka berupa keutamaan

 

Tahukah kalian siapakah yang dimaksud oleh Hasan Bin Tsabit Radiyallahu 'Anhu “ ketiganya menyerbu”?

 

Sungguh mereka adalah Rasul Shalallohu Alaihi Wasalam  dan dua sahabatnya, kekasihnya, , wazir beliau dari penduduk dunia, Abu Bakar dan Umar Radiyallahu 'Anhuma.

 

Saya telah kemukakan contoh-contoh cercaan kaum Syi’ah yang ditujukan pada masing-masing sahabat ini. Kaum Syi’ah masih memiliki ‘stok’ hinaan yang siap ditikamkan kepada kedua sahabat ini secara bersamaan. Saya akan sebutkan beberapa diantaranya”

 

1.       Keyakinan mereka akan wajibnya melaknat keduanya.

 

Syi’ah Itsna Asyriyah mewajibkan golongannya melaknat Syaikhoni,Abu Bakar dan Umar Radiyallahu 'Anhuma dan menyatakan  bahwa sebagian Imam merekapun  telah melaknatnya.

 

Kepada Ali mereka nisbahkan suatu kebohongan, tatkala ada seseorang yang ingin membaiatnya atas apa yang telah dilakukan Abu Bakar ia membentangkan kedua tanganya dan berkata,” Bertepuklah, Allah telah melaknat dua orang”. [94]

 

Sulaim Bin Qois mengatakan Ali senantiasa melaknat syaikhoni[95]. Demikian pula- menurut anggapan mereka- Imam Ja’far Ash Shadiq melaknat keduanya setiap selesai shalat wajib.[96]

 

Kaum Syi’ah juga kreatif mengarang banyak do’a guna melaknat Syaikhani  dalam kitab-kitab mereka. Memalsukan hadits tentang keutamaan do’a tersebut agar orang syi’ah bersemangat dalam membaca, mengulang-ulang dan berdo’a dengannya. Diantaranya satu do’a yang berjudul “ Do’a untuk dua berhala quraisy”. Do’a ini merupakan do’a khusus bagi kaum Syi’ah dalam melaknat Syaikhoni dan dua putrinya yang menjadi isteri Rasul Shalallohu Alaihi Wasalam. Menurut mereka Ali Bin Abi Thalib Radiyallahu 'Anhu juga berqunut dengan do’a ini dalam shalat witirnya[97]. Ia berkata,” Sesungguhnya orang yang berdo’a dengannya laiknya orang yang melempar panah bersama Nabi dalam Perang Badar Dan Hunain”. “ Do’a ini merupakan rahasia yang samar dan dzikir yang mulia”[98]. Dan beliau rajin membacanya pada siang, malam maupun diwaktu sahur –menurut anggapan mereka-.[99]

 

Kepada Imam Ahli Bait mereka menisbahkan keutamaan hadits ini- yang semuanya adalah dusta- bahwa barang siapa yang membaca do’a ini sekali Allah akan menulis baginya 70.000 kebaikan, menghapus 70.000 keburukan dan mengangkat 70.000 derajat serta memenuhi puluhan ribu kebutuhannya.[100] Dan Barangsiapa melaknat Abu Bakar dan Umar -Radiyallahu 'Anhuma- pada pagi hari, takkan ditulis baginya satu kejelakan pun hingga sore, dan barangsiapa melaknat keduanya pada sore hari, takkan ditulis baginya satu kejelakn pun hingga pagi tiba.[101]

 

Kaum Syi’ah sangatlah memperhatikan do’a ini, mereka menganggapnya termasuk do’a yang masyru’[102]. Mereka pun mengarang syarhnya  yang jumlahnya lebih dari sepuluh syarh(penjelasan).[103]

 

Para penulis Syi’ah banyak yang menyebutkan do’a ini, sebagian atau kesuluruhan. Diantara yang menyebutkan secara keseluruhan adalah Al Kaf’amy[104], Al Ka syany[105], An Nury At Tabrasy[106], Asadullah At Tahrany Al Ha’iry[107], Sayyid Murtadzo Husein[108], MandzurBin Husein[109] dan lainnya. Dan yang hanya menyebutkan petikannya saja diantaranya Al Kurky dalam” Tufahat Al Lahutu fie la’ni Al Jibti wa At Thaghut”[110] dan AL Kasyany dalam “Kurratu Al Ain”[111]. Ad Damadi Al Huseini dalam” Syir’atu At Tasmiyah Fie Az Zamani Al Ghibah[112]’, Al Majlisi dalam “ Mir’atu Al ‘Uqul”[113], At Tusturi dalam “ Ihqaqu Al Haq”[114], Abu Hasan Al ‘Amily dalam Muqadimah tafsir Al Burhannya[115], Al Ha’iry dalam “Ilzami An Nashib”[116], An Nury At Tabrasy dalam “ Fashlu AL Khitab”[117], Abdullah Sybr dalam “ Haq Al Yaqin”[118] dan lainnya.

 

Disebut do’ a untuk dua berhala Quraisy karena awalnya berbunyi,” Ya Allah berikanlah salam sejahtera Atas Muhammad dan keluarganya dan laknatlah dua berhala Quraisy, dua jabatihima, dua thagutnya dan kedustaannya dan dua putrinya....dst.

 

Maksud dari dua berhala Quraisy  adalah Abu Bakar dan Umar Radiyallahu 'Anhuma – semoga Allah meridhai keduanya dan mengadili orang yang membencinnya- sebagaimana banyak diterangkan orang syi’ah dalam banyak literatur mereka. Diantaranya:  Al Kaf’amy dalam syarh do’a ini[119], Al Kurky dalam” Tufahat Al Lahat”[120], Al Majlisy[121], Ad Damadi Al Huseini[122], At Tusturi dalam “ Ihqaqu Al Haq[123], Al Ha’iry dalam “Ilzami An Nashib”[124] An Nury At Tabrasy dalam “ Fashlu Al Khitab”.[125]

 

Sebagian kaum syi’ah tidak secara jelas menyatakan makna kedua berhala itu adalah Abu Bakar dan Umar- ini adalah taktik taqiyah yang mereka gunakan untuk bermuamalah dengan Ahli sunnah tapi hanya menyebutkan isyarat berupa gelar yang dengannya sesama orang Syi’ah akan tahu maksud dari gelar tersebut. Al Kasyani  menyebutkan  :” Maksud dua berhala itu adalah Fir’aun dan Haman”. Ia juga berkata,” Makhluq paling rendah adalah dua berhala Quraisy laknatullah alaih, keduannya adalah Fir’aun dan Haman “[126]. Sedang Fir’aun dan Haman adalah gelar yang mereka sandangkan untuk syaikhoni – Abu Bakar dan Umar Radiyallahu 'Anhuma-.

 

Abu Al Hasan Al Amily mengisyaratkan makna dua berhala Quraisy dengan “Fulan dan Fulan atau Jibt dan Thaghut “[127] yang maksudnya adalah syaikhoni.

 

Do’a yang oleh kaum Syi’ah dinamakan” Do’a Dua Berhala Quraisy “ ini sangat sarat dengan laknat, umpatan,hinaan dan do’a demi kecelakaan untuk syaikhoni[128]. Pula penuh dengan kisah-kisah palsu dan tuduhan keji tak berdasar yang kentara sekali kebohongannya. Semua tuduhan itu mereka hunjamkan pada diri orang yang paling mulia setelah Nabi Shalallohu Alaihi Wasalam. Sebagai contoh : Dakwaan mereka bahwa keduanya mengingkari wahyu, merubah Al Qur’an, menyelisihi Syar’i, menghapus hukum, membakar negeri, merusak para hamba, merobohkan rumah Nabi Shalallohu Alaihi Wasalam dan banyak lagi kedustaan lainnya yang kesemuanya tidak dilandasi petunjuk atau diperkuat dalil dan hujjah. Sehingga apa yang ada dalam diri Kaum Syi’ah yang sebenarnya tersingkap jelas, yaitu kedengkian yang mendalam serta rasa benci yang tak terkira pada para sahabat Rasul Shalallohu Alaihi Wasalam, bahkan pada yang paling afdhol dari mereka semua, yang Rasul memerintahkan kita beriqtida’(mencontoh) pada mereka sepeninggal beliau.

 

Adapun Aqidah Syi’ah dalam hal bara’ kepada Syaikhoni sebagaiman berikut:

 

Dalam aqidah mereka, berlepas diri dari keduanya juga dari Utsman dan Muawiyah dianggap sebagai dharuriyat mazhab mereka. Barangsiapa tidak berlepas diri dari mereka ia bukan termasuk golongan mereka.

 

Al Majlisi –referensi Syi’ah Muashir- berkata :” Termasuk dari dharuriyat agama Imamiyah adalah bara’ (berlepas diri) dari Abu bakar, Umar, Utsman dan Muawiyah........”[129]

 

Bahkan bara’ terhadap mereka dipercaya menjadi sebab hilangnya penyakit dan obat bagi tubuh,[130] barangsiapa yang telah berlepas diri dari mereka kemudian mati pada malam harinya ia akan masuk jannah. Diriwayatkan Al Kulainy dalam Kitabnya “ Al Kafy” –termasuk salah satu dari empat ushul yang terkenal di kalangan Syi’ah- dengan sanad dari keduanya[131] ia berkata,” Barangsiapa berdo’a” Ya Allah aku bersaksi kepadamu dan bersaksi pada malaikat-malaikat Al Muqarrabien, para pembawa Arsy yang terpilih bahwa engkaulah Allah yang tiada ilah selain engkau. Maha pengasih lagi Maha Penyayang dan bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulMu dan Fulan adalah Imam dan Waliku[132],dan bahwa ayahnya Rasulullah Shalallohu Alaihi Wasalam, juga Ali bin Abi Talib, Al Hasan dan Al Husein, fulan, fulan –dan seterusnya hingga berakhir padanya-[133] adalah waliku. Untuk itu aku hidup dan mati serta dibangkitkan dihari Kiamat Aku berlepas diri dari fulan, fulan dan fulan. Jika ia mati pada malam harinya ia akan masuk surga”[134]

 

Yang dimaksud Fulan, Fulan dan Fulan adalah Abu Bakar Umar dan Utsman.

 

Menurut mereka tidak hanya kaum Syi’ah saja yang melaknat dan belepas diri dari Abu Bakar Umar dan Utsman, tapi ada suatu golongan yang Allah ciptakan khusus untuk melaknat mereka.

 

Kaum  Syi’ah menisbatkan riwayat dusta pada Ja’far Ash Shadiq bahwa ia berkata :” Sesungguhnya di balik matahari kalian ini ada empat puluh planet yang didalamnya terdapat makhluk yang banyak. Dan di balik bulan kalian ini ada empat puluh bulan yang didalamnya juga terdapat makhluk yang banyak jumlahnya. Mereka tidak tahu apakah Allah mencipta atau tidak, hanya mereka dilhami satu ilham berupa laknat atas Fulan dan fulan....”.

 

Dalam riwayat Al Kulainy pengarang Al Kafy :” Mereka tidak bermaksiat kepada Allah sekejap matapun dan berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar”[135].Al Majlisi mengkaitkan perkataan ini dengan perkataanya “ Fulan dan Fulan” maksudnya Abu Bakar dan Umar Radiyallahu 'Anhuma

  

Ringkasnya :

 

Syi’ah Itsna Asyriyah sepakat untuk melaknat Abu Bakar dan Umar Radiyallahu 'Anhuma, berlepas diri dari mereka dan mewajibkannya kepada para pemeluknya.

 

Dan tentu saja, apa yang diyakini  Imam-imam mereka menyelisihi apa yang mereka katakan berkenaan dengan syaikhani khususnya dan para sahabat pada umumnya. Akan kami ketengahkan sebagian perkataan para Imam itu. Dan semua yang mereka nisbahkan pada mereka tidak lain hanyalah kedustaan yang mereka karang. Pernyataan Imam tersebut diantaranya:

 

Adalah Amirul Mu’minin Radiyallahu 'Anhu melarang sebagian tentaranya  mencela Muawiyah Radiyallahu 'Anhu –padahal dibanding Syaikhani keutamaan beliau lebih rendah sebagaimana diakui kaum Syi’ah sendiri- dan berkata pada mereka,” Tentang apa yang dinisbahkan kaum Syi’ah dalam kitab-kitab mereka aku tidak menyukainya dan melarang kalian menjadi para pencela dan pelaknat”[137]. Dan menurut pandangan mereka apa yang Ia benci  dari kaumnya ia membenci pula hal itu atas dirinya.

 

Pada dasarnya Amirul Mu’minin tidak saja membenci bahkan menyuruh untuk membunuh orang yang berani melaknat Abu Bakar dan Umar Radiyallahu 'Anhu

 

Imam Ahmad dan At Tabrani[138] meriwayatkan dengan sanad hasan dari Amirul Mukninin Ali Bin Abi Talib Radiyallahu 'Anhu bahwa ia berkata,” Akan datang suatu kaum setelah kita yang mengaku dari golongan kita tapi sebenarnya bukan golongan kita, mereka memiliki An Nibz[139] atau gelar-gelar dan tanda untuk mencela Abu Bakar dan Umar Radiyallahu 'Anhuma. Jika kalian menemui mereka maka bunuhlah karena mereka adalah orang musyrik”.[140]

 

Tatkala dikabarkan pada beliau bahwa ada orang yang mencela Syaikhani, beliau mengancamnya dengan had (hukuman)  seorang Muftary  (pembuat dusta besar) yaitu 80 kali jilid. Diriwayatkan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahid Al Maqdisy dengan sanadnya dari Amirul Mukminin bahwa telah sampai kabar padanya bahwa ada beberapa orang yang mencela Abu Bakar dan Umar Radiyallahu 'Anhuma, maka beliau berkata “ Semoga Allah melaknat orang yang dihatinya terdapat perasaan tentang keduanya selain dari yang baik. Lalu beliau naik mimbar dan berkhotbah dihadapan mausia dengan khutbah yang sangat menyentuh dihati :” Apa urusan orang-orang itu menyebut-nyebut dua penghulu Quraisy, dua bapak kaum muslimin?! Saya berlepas diri dari apa yang mereka katakan, dan atas perkataan mereka akan ada balasan. Ketahuilah ...demi yang membelah biji dan Yang menghembuskan angin, tidaklah mencintai keduanya selain seorang mukmin yang bertakwa dan tidaklah seseorang membencinya selain pendosa yang rendah”.

 

Kemudaian beliau terus menerus menyebutkan  keutamaan keduanya Radiyallahu 'Anhuma. Dari keredhoan Nabi ketika wafat, kerelaan manusia membaiatnya, kisah-kisah keduanya dalam kekhalifahan hingga sampai pada perkataannya,” Ketahuilah, barangsiapa yang mencintaiku maka cintailah keduanya, dan barang siapa tidak mencintai keduanya maka ia telah membenciku dan aku berlepas diri darinya. Ketahuliah siapa saja yang pada saat aku mendatanginya mengatakan hal ini- celaan pada Syaikhani-  maka baginya hukuman seorang muftary. Ketahuilah orang terbaik setelah Nabi Adalah Abu bakar dan Umar jika aku mau niscaya aku sebutkan yang ketiga. Aku memohon ampun kepada Allah bagiku dan kalian semua”.[141]

 

Sangat urgen bagi Kaum Syi’ah untuk memperhatikan ucapan agung dari Imam yang mulia ini. Sungguh beliau tidak hanya melarang dari mencela dan membenci dua sahabat tersebut beliau bahkan menjadikan kecintaan terhadap mereka sebagai tanda kecintaan terhadap dirinya yang mulia, mengutamakan keduanya atas dirinya sendiri dengan menjadikan keduanya orang  terbaik  setelah Nabi Shalallohu Alaihi Wasalam.

 

Dan bahwa dalam mengutamakan keduanya terdapat riwayat yang mutawatir dari beliau dengan berbagai bentuk, suatu ketika beliau naik mimbar Kufah dan seluruh yang hadir pun mendengarnya, lalu berkata :” Sebaik-baik umat setelah Nabinya adalah Abu Bakar dan Umar!”[142]

 

Al Bukhary dalam shahihnya meriwayatkan dari Muhammad bin Al Hanafiyah – beliau putra Ali dari isterinya yang berasal dari kabilah Hanafiyah-  ia berkata,” Aku berkata pada bapakku,” Siapakah manuisa terbaik setelah Nabi ?” Beliau menjawab,” Abu Bakar”. “ Lalu ?” lanjutku.” Kemudian Umar”.[143]

 

Dan ketika Ibnu Saba’ terang-terangan menghina Abu Bakar, Ali Bin Abi Thalib menyuruh untuk membunuhnya tapi sebagian orang memintakan ampunan atasnya maka dibatalkanlah hukuman bunuh ,kemudian dia di asingkan ke Mada’in –sebagaimana diakui oleh sebagian Syi’ah-.[144]

 

Semoga Allah meridhai Amirul Mu’minin dan membalasnya dengan kebaikan atas kebajikannya yang telah menempatkan hak keduanya  sesuai proporsinya dan mengakui keutamaan pada yang memilikinya. Hanyasanya yang mengakui keutaman dari pemilik keutamaan adalah orang yang memiliki keutamaan pula.

 

Keyakinan beliau tentang Syaikhani sebgaimana keyakinan Syi’ah di zaman dahulu. Mereka tidak menghujat Abu Bakar dan Umar. Inilah pernyataan ulama besar Syi’ah, Abu Al Qasim menuturkan bahwa ada seorang bertanya kepada Syuraik bin Abdillah bin Abi Numair – termasuk kibaru sahabat Ali Radiyallahu 'Anhu - ,” Siapa yang lebih utama, Abu Bakar atau Ali ?” Syuraik menjawab,” Abu Bakar”. “ Apakah engkau  mengatakan hal ini sedang engkau berasal dari golongan kami?”. Lanjutnya.” Ya”, jawab Syuraik” .”Yang disebut orang Syi’ah adalah orang yang mengatakan hal seperti ini. Demi Allah Ali RA telah menaiki kaki-kaki mimbar ini – yang dimaksud adalah mimbar Kufah- dan berkata,” Ketahuilah, umat terbaik setelah Nabinya adalah Abu Bakar dan Umar”. Apakah kita menyanggah perkataan beliau? Atau mendustakannya? Demi Allah beliau tidaklah berbohong.!”[145]

 

Imam Ali Bin Muhammad, Abu Ja’far Al Baqir mutlak melarang laknat dan celaan juga memberitahukan bahwa Allah membenci hal itu, beliau berkata,” Sesungguhnya Allah membenci orang yang suka melaknat, mencela, mencerca,dan suka berbuat fahisah (zina)”. Ini pengakuan salah seorang Syi’ah sendiri[146], maka apakah Imam yang maksum –menurut mereka – melakukan hal yang dibenci Allah?!

 

Beliau juga berwala’ pada Abu Bakar dan Umar RA dan mengkhabarkan bahwa tak seorang Ahli Bait pun yang mencela keduanya. Ketika Jabir Al Ja’fi bertanya kepadanya tentang Syakhani “Adakah diantara kalian, ahli bait yang yang menghina Abu Bakar dan Umar?”, beliau jawab,” Tidak. Dan aku mencintai keduanya, berwala’ dan memohonkan ampun untuk mereka,”[147]