Home / darulkautsar.net / Bahaya Syiah / TOKOH-TOKOH DAN GERAKAN SYIAH / 6. Penentangan Terhadap Ijma’
Klik Untuk Ke Laman Darulkautsar Indeks

6. Penentangan Terhadap Ijma’

Download PDF

vi.Penentangan Terhadap Ijma’

 

Al-Quran telah menegaskan bahwa Ijma’ (kesepakatan) muslimin adalah hujjah, dalam firman Allah:

وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Artinya: “Dan (barangsiapa) mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang beriman Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasanya itu dan kami masukkan ke dalam Jahannam seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisa : 115)

Sebahagian Syiah tidak menganggap adanya Ijma’ sama sekali, demikian pula sikap Khomaini. Seburuk-buruk contoh akan penentangan mereka terhadap Ijma’adalah halalnya nikah mut’ah yang sampai sekarang masih berlaku di Iran setelah pemerintahan Khomaini. Bukankah nikah mut’ah sama halnya dengan zina terang-terangan, yang haramnya berdasarkan ijma’. Di antara yang mengharamkan nikah mut’ah justru Ali bin Abi Thalib sendiri. Memang benar Islam tidak mengharamkannya pada permulaannya, tetapi kemudian jelas-jelas Rasulullah SAW., mengharamkan dan perkara ini telah disepakati oleh umat (ijma’).

Nikah mut’ah penghancur keluarga dan menghancurkan salah satu tujuan Islam yang agung berupa pemeliharaan kehormatan dan keturunan serta pemeliharaan anak-anak supaya tumbuh di tengah-tengah keluarga. Semua itu dihancurkan oleh doktrin Syiah. Begitulah rejim Khomaini menganjurkannya. Cukuplah hal ini menjadi bukti, bahwa mereka tidak memperdulikan ijma’ sebagai hujjah di dalam syari’ah. Masalah ini sangatlah berbahaya sekali karena mereka betentangan dengan ijma’ di banyak urusan mereka dalam hal aqidah, ibadat dan tata cara hidup.

Tidaklah terlihat bahwa mereka bertentangan dengan Ijma’ dalam hal shalat, shaum, hajji dan lain-lainnya.

Khomaini memperkuat penentangan ini dengan menjadikannya sebagai Undang-Undang Dasar, dan menetapkan madzhab Al-Itsna Asyariyah sebagai satu-satunya madzhab yang abadi. Pasal ini (ps.12) ditegaskan tidak boleh ada pembahasan dan perubahan.

Share...Tweet about this on TwitterPrint this pagePin on PinterestShare on LinkedInShare on FacebookShare on Google+Digg this
Download PDF

Check Also

Penutup

Penutup   Ibnu Umar R.A., menyebutkan di sebuah atsar shahih menceritakan tentang keadaan para sahabat, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>