Home / darulkautsar.net / Bahaya Syiah / TOKOH-TOKOH DAN GERAKAN SYIAH / 4. Sikap Syiah Terhadap Sahabat Rasulullah
Klik Untuk Ke Laman Darulkautsar Indeks

4. Sikap Syiah Terhadap Sahabat Rasulullah

Download PDF

iv. Sikap Syiah Terhadap Sahabat Rasulullah

Sudah sama kita maklumi bahwasanya orang-orang munafik tidak tersisa setelah wafatnya Rasulullah SAW., kecuali hanya sedikit dan rahasia mereka telah diberikan Rasulullah SAW., kepada Hudzaifah Ibnil Yaman agar mereka tidak dapat memainkan peranan buruk apa pun di kalangan umat Islam;  yang diantaranya menyebarkan berita-berita dusta tentang Rasulullah SAW. Oleh karena itu, ulama-ulama umat ini menganggap semua sahabat sebagai orang-orang yang adil dalam meriwayatkan hadits.

Umat ini dengan penuh kehormatan dan kesucian memandang generasi shahabat yang dimuliakan  Allah Azza Wa Jalla karena persahabatan dengan nabi, pembelaan terhadap agama dan mengemban amanat Allah. Allah Azza Wa Jalla bersaksi untuk mereka, dalam firman-Nya:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

Artinya: “Allah telah ridha terhadap mu’minin ketika mereka membaiat kamu (Muhammad SAW.) di bawah pohon”. (Q.S al-Fath : 18)

Juga berfirman tentang mereka:

وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى

Artinya: “Dia (Allah) mengokohkan bagi mereka kalimat At-Taqwa” (Q.s Al-Fath)

Menurut Ahlus Sunnah Wal Jamaah, bahwa tidak ada yang berani mencemoohkan para shahabat kecuali orang yang sesat, hal ini sesuai dengan firman Allah:

وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ

Artinya: “Dan perumpamaan mereka mengkafirkan Aisyah R.A., dan menuduhnya berbuat kejahatan, padahal Allah Azza Wa Jalla telah membersihkannya. Sebagian lainnya tidak cukup hanya menfasikkan dan menganggap para sahabat sesat, lebih dari itu mereka mencaci maki dan nyata-nyata menjelekkan para sahabat dan mngkhususkan tambahan laknat dan cacian bagi Abu Bakar, Umar, Utsman, Thalhah, Zubair, Abu Ubaidah dan Abdur Rahman bin Auf. Jika halnya 10 orang shahabatyang telah dijanjikan jannah saja tidak selamat dari kebejatan celaan mereka, maka apa jadinya terhadap ummat selain mereka. Anggapan apalagi, tentang Islam yang tersisa setelah mereka berbuat kejahatan terhadap para shahabat Rasulullah SAW.? Apabila pendidikan Rasulullah., kepada para shahabat tidak bisa mencapai kesempurnaan maka bagaimana pendidikan selainnya?

Kita lihat Al-Kulaini, pengarang Al-Kafi pembawa riwayat terpercaya di kalangan Syiah yang dinisbatkan Ja’far Ibnu Muhammad As-Siddiq, isinya: “Adalah orang-orang setelah wafatnya Rasulullah SAW., menjadi murtad kecuali 3 orang,”aku bertanya: “Siapa ketiga orang itu?” dia menjawab: “Al Miqdad Ibnul Aswad, Abu Dzar Al-Ghafiri dan Salman Al-Farisi.”(1)

Pada bagian lain Al-Kulaini membawakan riwayat yang dinisbatkan kepada Al-Baqir ketika ditanya oleh seorang tentang “dua orang Syaikh” (Abu Bakar dan Umar): “Jangan kau tanya tentang kedua orang itu. Tidaklah ada di antara kita yang meninggal dunia, kecuali dalam keadaan marah kepada keduanya. Hendaklah yang lebih tua daripada kita mewasiatkan hal ini kepada yang muda. Sesungguhnya keduanya telah mengzhalimi hak kita. Mereka berdua adalah orang-orang pertama yang menunggangi leher kita. Demi Allah, tidak terjadi suatu musibah atau perkara yang menimpa kita para ahlul bait, kecuali dua orang ini penyebab pertamanya. Semoga ditimpakan laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya di atas kedua orang ini.”(2)

Al-Kasyi di dalam bukunya “AR RIJAL”, berkata: “Al Kumaid Ibnu Zaid Al-Imamul Baqir bertanya tentang dua orang Syaikh, maka dijawab: “Hai Kumaid Ibnu Zaid tidaklah tercurah darah di dalam Islam, tidak terdapat harta dengan cara yang tidak halal dan tidak disetubuhi sebuah kemaluan (farji) kecuali semua itu berada di leher kedua orang itu sampai hari qiyamat.”(3)

Perbuatan tak berakhlaq ini melimpah di kalangan para ulama mereka dan ahli hadits mereka yang dipercaya baik orang-orang terdahulu maupun yang terakhir. Seperti Ibnu Babawaih Al-Qomi, Syaikh At-Thaifah At-Thusy, Syaikh Al-Mufid, Ibnu Thawus, Al Ardibily, Abul Hassan Al-Qomi dan Muhammad Baqir Al-Majlisi yang dijuluki di kalangan mereka penghujung para ahli hadits di mana Khomaini berpanjang kata memujinya di dalam buku “Kasyful Asrar”.(4)

Dalam hal ini Al-Majlisi di dalam buku-bukunya “Zaadul Maad”, “Haqqul Yaqin” dan “Biharul Anwar”, begitu banyak mengambil berita-berita dusta dan dongeng mengenai Abu Bakar, Umar, Utsman, Abu Ubaidah, Khalid Ibnul Walid dan lain-lainnya, tidaklah pantas untuk kita nukilkan.

Akan halnya Khomaini pada yang pada awal gerakannya mengajak kepada persatuan umat Islam, maka seharusnya menutupi kesesatan yang ditunjukkan kepada mereka yang paling suci dari umat ini; mengumumkan perang terhadap orang-orang yang mengatakannya, melarang buku-buku yang mencaci maki para shahabat dan mengkafirkannya kepada yang melakukan. Akan tetapi Khomaini justru berpegang teguh doktrin Syiah paling buruk dalam hal ini. Khomaini menulis dua pasal dalam bukunya Kasyful Asrar, salah satunya menerangkan penentangan Abu Bakar terhadap Al-Qur’an,(5) dan lainnya dalam penentangan Umar terhadap Kitab Allah.(6)

Pada keduanya terdapat dusta, fitnah dan kebencian terhadap para imam muslimin yang tidak bisa dibayangkan kalau hal itu muncul dari seorang yang menyatakan dirinya berilmu pengetahuan dan beragama.

Khomaini berkata tentang kedua orang Syaikh tersebut:

“Di sini kami tidak perlu menyebut kedua orang Syaikh ini dengan seperangkat yang mereka lakukan berupa menentang Al-Qur’an, mempermainkan hukum-hukum Allah, menghalalkan dan mengharamkan menurut seleranya, sampai kepada apa yang mereka lakukan berupa kezhaliman melawan Fathimah, putri Nabi dan anak-anaknya; tetapi kami perlu menunjukkan kebodohan mereka berdua tentang hukum-hukum Allah dan agama.

Sesungguhnya orang-orang seperti mereka yang bodoh, pandir, ambisius dan kejam tidaklah pantas untuk menduduki kepimpinan atau berada di kalangan para ulil Amri.”(7)

Kemudian mereka mendiskriditkan Umar Ibnul Khatab R.A., bahwa perbuatan-perbuatannya terbit dari perbuatan kekafiran, kesesatan dan bertentangan dengan ayat-ayat yang termaktub dengan Al-Qur’anul Karim.”(8)

Dia pun menyimpulkan pembicaraannya mengenai sebab tidak disebutkannya imamiah dalam Al-Qur’an:

“Dan apa yang dilakukan oleh kedua orang Syaikh yang dituduh merebut kekhalifahan, redaksinya sebagai berikut: “Dari seluruh apa yang telah lalu, jelaslah bahwa kedua orang Syaikh itu, yang menentang Al-Qur’an ini bukanlah sesuatu yang penting sekali bagi kaum muslimin. Kemungkinan mereka berada dalam partai kedua orang Syaikh itu dan menjadi pendukungnya atau mereka beroposisi dengan keduanya, akan tetapi tidak berani mengatakan dan bersuara sesuatu di hadapan mereka yang bertindak semena-mena terhadap Rasulullah dan anaknya, sampai-sampai jika ada yang mengatakan sesuatu, maka perkataannya tidak dianggap. Kesimpulannya, sekalipun masalah imamah ini termaktub jelas di dalam Al-Qur’an pasti mereka tidak akan berhenti dari cara mereka dan tidak akan mau meninggalkan jabatannya.”(9)

Walaupun kita tahu, bahwa Khomaini mengarang bukunya “Al Hukumatul Islamiyah” (Pemerintahan Islam) yang penuh pemutarbalikan dan taqiyyah, karena menyangkut gerakannya dan pengikut-pengikutnya. Sesungguhnya dia berusaha keras tidak menyebutkan nama kedua orang Syaikh (Abu Bakar dan Umar) dan Utsman bin Affan R.A., manakala harus berhadapan dengan rangkaian sejarah, bahkan sehabis menyebutkan Rasulullah SAW., ia langsung menyebut Ali bin Abi Talib R.A.(10) agar lebih jelas mengenai aqidah Khomaini, kami bawakan isi bukunya: Al-Hukumatul Islamiyah yang bermakna bahwa Rasulullah SAW., telah menunjuk Ali R.A., sebagai pemegang wasiyat dan Khalifah sepeninggalnya.

Ini berarti bahwa para sahabat telah melarang dan mengingkari perintah Rasul serta merebut kekhalifahan dengan menunjuk Abu bakar sebagai penggantinya. Seperti ungkapan Khomaini: “Kami yakin adanya wilayah (kepimpinan) dan yakin sebagai keharusan bagi Nabi untuk menunjuk khalifah sesudahnya, dan telah dilakukan.”(11) Selanjutnya dia berkata: “Penunjukan Khalifah sesudah nabi sebagai faktor penyempurnaan dan pelengkap risalahnya.”(12)

Kemudian ia menjelaskan hal itu: “Karena kalaulah tidak ada penunjukan Khalifah sesudahnya maka berarti Rasulullah SAW., dan keluarganya tidak menyampaikan risalahnya.”(13)

Ini adalah fakta keanehan dan berakibat orang yang mengatakannya keluar dari lingkaran Islam. Sesungguhnya mereka telah jatuh di dalam kesesatan dan penyesatan dan bersatu dengan ahlul kitab di dalam perkara yang dilarang oleh Allah Azza Wa Jalla dengan firman-Nya:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Artinya: “Hai Ahli Kitab, janganlah berlebihan dalam agamamu selain dari kebenaran dan jangan ikuti hawa-nafsu kaum yang telah sesat sebelum itu dan menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka telah sesat dari jalan yang lurus.”  (Q.S al-Maidah : 77)

 

______________________________

  1. Buku “Ushulul Kafi”, jilid III, hal. 85.
  2. Ushulul Kafi, 3/115.
  3. Rijalul Kasyi, hal. 135.
  4. Kasyful Asrar. Hal. 120.
  5. Kasyful Asrar, 114-117.
  6. Kasyful Asrar, 111-114.
  7. Kasyful Asrar, hal. 107-108
  8. Kasyful Asrar, hal. 116
  9. Kasyful Asrar, hal. 117
  10. Al Hukumatul Islaiyah, hal 26 dan 71
  11. Al Hukumatul Islamiyah, hal. 18.
  12. Al Hukumatul Islamiyah, hal.. 30.
  13. Al Hukumatul Islamiyah, hal. 31
Share...Tweet about this on TwitterPrint this pagePin on PinterestShare on LinkedInShare on FacebookShare on Google+Digg this
Download PDF

Check Also

Penutup

Penutup   Ibnu Umar R.A., menyebutkan di sebuah atsar shahih menceritakan tentang keadaan para sahabat, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>