DK Mobile    RSS    
KHIDMAT KAMI
Penerbitan
Kemuka Kemusykilan
Jawapan Kemusykilan
Waktu Solat
Quran Flash
Bacaan Al-Quran
Terjemahan Al-Quran
Tafsir Al-Quran (Indon)
Tafsir Al-Quran (Eng)
Al-Quran Digital (download)
al-Quran Explorer
Terjemahan Hadis
Previu Buku
Buku Elektronik
Belajar Bahasa Arab
P.P.A.Darul Kautsar
Jadual Kuliah Hadis
Islam Secara Ringkas
Islam dan Sains
Penapis Laman Lucah

~::~
MAQAALAAT 'ASRI
Hadits-Hadits Yang Selalu Digunakan Oleh Syi`ah Untuk Menghujah Ahli As-Sunnah Wa Al-Jama`ah
ARKIB

~::~
TERKINI

~::~
NAVIGASI
Laman Utama
Terbaru
Popular
Pilihan
Tentang Kami
Hubungi Kami
Pautan
Site Map

:~:
Memesan Buku Syiah Rafidah
GALERI

Himpunan Galeri www.DarulKautsar.net


:~:
RAYAU-RAYAU
10 outrageous (but true) facts about vaccines the CDC and the vaccine industry don't want you to know
Exclusive: US bankrolled anti-Morsi activists
Not even good enough for dog food: Imported food from China loaded with chemicals, dyes, pesticides and fake ingredients
Camp Nama: British personnel reveal horrors of secret US base in Baghdad
Secret Government Documents Reveal Vaccines To Be A Total Hoax
Shock Findings In New GMO Study: Rats Fed Lifetime Of GM Corn Grow Horrifying Tumors, 70% Of Females Die Early
78 Percent Increase In Childhood Autism Rates Over Past Decade Coincides With Sharp Uptick In Vaccination Schedules
The CIA and the Drones
Seasonal Flu Vaccine Fairy Tale Rapidly Collapsing As The Truth Comes Out
The Truth About Soy Foods

:~:
NEWSLETTER

~::~
HADIS PILIHAN
Tetap Mendapat Pahala Dalam Nafkah Keluarga
Nasihat Ringkas Padat Kepada Yang Mahu Mengambil Ingatan
Kelebihan Berwudu` Adakah Khusus Kepada Ummat Ini
ARKIB

~::~
TENTANG BID'AH


:~:
BAHAYA SYIAH
.


:~:
PESAN RINGKAS

~::~
  Sejauh Mana Bid`ahnya Membuat Bubur Asyura   Hukum Bertawassul Dalam Islam   Debat Melayu Sunni vs Syiah - Bab Imamah    Rakaman Maulana Asri Yusoff di IKIM - Bahaya Syiah    Risalah Syiah Edisi 2013, Sisipan Risalah Syiah 2013, Risalah Syiah (Versi B.Inggeris) Edisi 2013 - Sila Download, Cetak Atau Edar    TERBARU - VIDEO-VIDEO SYIAH      Perpaduan Salaf & Khalaf - Video & Sinopsis    Benarkah Hajjaj Seorang Yang Sangat Jahat      Doa Setelah Solat Jenazah: Dari Manakah Asal Usulnya     Isu-Isu   ISTIMEWABahaya Syiah & Info-Info Berkenaan Syiah      Terbaru Di Youtube - Bukhari KL, Misykat, Sahih Bukhari Kitab Waktu-Waktu Solat, Sahih Muslim Kitab Zikir, Abu Daud Kitab Thalaq   Web Pilihan: OnIslam                                                                                        |                                                                                        
PuasaPuasayoutube PuasaPuasa
Carian artikel di darulkautsar.net :
Ikut Kategori
  > Home > Fatwa Qardhawi > Feqah > Hukum Tulang Bangkai, Tanduk, Kuku, Rambut Dan Bulunya Menurut Al-Qaradhawi
Hukum Tulang Bangkai, Tanduk, Kuku, Rambut Dan Bulunya Menurut Al-Qaradhawi

Hukum Tulang Bangkai, Tanduk, Kuku, Rambut Dan Bulunya Menurut Al-Qaradhawi

 

 

Jika kulit bangkai binatang bisa menjadi suci setelah proses penyamakan, sebagaimana hal tersebut disebutkan banyak hadits shahih, lalu bagaimana dengan hukum tulang bangkai dan kukunya, juga tanduk, cakar, rambut, dan bulunya? Apakah semua itu najis atau suci, atau sebagiannya suci dan sebagiannya najis?

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika ditanya mengenai masalah ini, ia menjawab; Adapun tulang bangkai dan tanduknya juga kukunya, sebagaimana juga cakarnya, rambut dan bulunya, maka dalam hal ini ada tiga pendapat di kalangan ulama:

 

Pertama: Najis semuanya. Sebagaimana yang disebutkan Imam Asy­Syafi'i dalam riwayat yang masyhur darinya. Pendapat ini juga dikatakan Imam Ahmad.

 

Kedua: Bahwa tulang dan sejenisnya adalah najis, sedangkan rambut dan sejenisnya adalah suci. Ini merupakan pendapat yang sangat masyhur dari madzhab Malik dan Ahmad.

 

Ketiga: Bahwa semuanya adalah suci, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Abu Hanifah. Pendapat ini juga menjadi salah satu pendapat madzhab Malik dan Ahmad.

 

Ibnu Taimiyah berkata; Inilah pendapat yang benar (pendapat yang terakhir). Sebab asal dari sesuatu adalah suci dan tidak ada dalil yang menunjukkan akan kenajisannya.

 

Benda-benda itu adalah benda-benda yang baik dan bukan barang yang kotor, maka ia masuk dalam ayat yang menunjukkan kehalalannya. Sebab, ia tidak masuk pada apa yang Allah haramkan dari benda-benda kotor, baik secara lafazh maupun makna. Sebab Allah mengharamkan bangkai, sedangkan benda-benda ini tidak masuk dalam apa yang Allah haramkan. Baik secara lafazh atau maupun makna.

 

Adapun dari sisi lafazh, karena firman Allah yang berbunyi, "Diharamkan bagi kamu semua bangkai," tidak masuk di dalamnya rambut dan yang serupa dengan itu. Sebab, mati adalah lawan dari hidup dan hidup itu ada dua bentuk. Hidupnya binatang dan hidupnya tumbuh-tumbuhan. Adapun hewan, kehidupannya ditandai dengan perasaan, gerak, dan kemauan. Sedangkan kehidupan tumbuhan memiliki ciri; tumbuh dan mengisap makanan. Sedangkan firman Allah, "Diharamkan bagi kamu semua bangkai," maksudnya adalah pemisahan kehidupan binatang dan bukan tumbuhan. Sebab pepohonan dan tanaman jika dia kering tidak najis, sebagaimana disepakati oleh semua kaum muslimin. Jika demikian, maka bulu bentuk kehidupannya adalah sama dengan kehidupan tumbuhan, dan bukan dari kehidupan binatang. Sebab dia menyerap makanan, dan tumbuh berkembang sebagaimana tumbuhan. Dia tidak memiliki rasa, dan tidak bergerak sesuai dengan kehendaknya sendiri. Dia tidak sama dengan kehidupan binatang sehingga tidak mungkin dia dianggap bangkai. Maka tidak tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa itu adalah najis.

 

Demikian pula jika bulu itu termasuk bagian dari hewan, pastilah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mengijinkan untuk diambil pada saat hidup. Rasulullah pernah ditanya tentang suatu kaum yang mengambil punuk onta dan bokong kambing. Maka Rasulullah menjawab:

 

"Bagian (tubuh ) yang terpisah dari makhluk hidup (hewan) adalah bangkai." (HR. Abu Dawud dan lainnya)

 

Ini telah menjadi kesepakatan di antara ulama. Maka andaikata hukum bulu itu sebagaimana hukum punuk onta dan bokong kambing, niscaya ia tidak boleh dipotong pada saat binatang masih hidup, dan tentu saja tidak suci juga tidak halal. Tatkala para ulama sepakat bahwa bulu dan wool jika dia dipisahkan dari binatang itu tetap suci dan halal, bisa dimengerti bahwa ia tidak sama hukumnya dengan daging.

 

Ibnu Taimiyah juga menyebutkan; Bahwa illat (alasan) najisnya bangkai itu adalah karena terhentinya aliran darah dalam bangkai itu. Sedangkan sesuatu yang tidak ada darahnya, maka dia tidak akan memiliki darah yang mengalir. Dan jika dia mati maka tidak ada ada darah yang berhenti mengalir. Maka dia tidak najis. Artinya, bahwa tulang tidak najis karena dia tidak memiliki darah yang mengalir dan tidak pula dia bergerak karena kehendaknya sendirinya. Dia bergerak karena digerakkan yang lain. Jika hewan yang memiliki perasaan sempurna dan bergerak dengan kehendaknya -seperti lalat, kalajengking, dan kumbang— tidak najis karena dia tidak memiliki darah mengalir, maka bagaimana mungkin tulang akan najis padahal dia tidak memilik darah yang mengalir?

 

Dia berkata; Yang menjelaskan kebenaran pendapat jumhur ulama adalah bahwa Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi mengharamkan darah yang mengalir atas kita. Sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta'ala firmankan,

 

"Katakanlah; Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir." (Al-An'am: 145)

 

Maka, jika ada keringanan terhadap darah yang tidak mengalir walaupun dia termasuk jenis darah, bisa dipahami bahwa Allah telah membedakan antara darah yang mengalir dan yang tidak mengalir. Oleh sebab itulah, kaum muslimin meletakkan daging di dalam kuah dan bekas darah di dalam bejana. Dan mereka, sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah, makan daging itu di zaman Rasulullah. Andaikata ini tidak boleh, pastilah mereka akan mengeluarkan darah dari daging sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Allah mengharamkan bangkai binatang yang mati dengan sendirinya atau karena sesuatu sebab yang tidak ada kepastian yang melukainya. Maka Allah mengharamkan; binatang yang mati tercekik, yang dipukul, yang jatuh, dan yang ditanduk. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengharamkan binatang yang diburu dengan gagang senjata. Beliau mengatakan, bahwa cara seperti itu sama saja dengan memukul dan bukan diburu dengan benda yang tajam. Perbedaan antara keduanya adalah mengalirnya darah. Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa sebab najisnya adalah karena tidak mengalir dan tersendatnya darah.

 

Jika demikian, maka tulang, tanduk, kuku binatang, dan yang serupa dengan itu yang tidak memiliki darah yang mengalir, tidak ada alasan menajiskannya. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama salaf. Az-Zuhri berkata; Manusia-manusia terbaik dari umat ini menyisir rambutnya dengan menggunakan sisir dari tulang onta.

 

 

Petikan: Fikih Thaharah (terjemahan), Dr Yusuf al-Qaradhawi, Pustaka al-Kautsar

 

 

 

Sumber: http://al-ahkam.net/home/index.php?option=com_content&view=article&id=5974:hukum-tulang-bangkai-tanduk-kuku-rambut-dan-bulunya-menurut-al-qaradhawi&catid=91:hukum-hakam


 
 
4658 Reads    Cetak    Hantar Kepada Kawan    Social Share


TERKINI DARI al-ahkam.net 1434

~::~


IKLAN

                                                    Hubungi Ust. Zakaria: 0139748156

~::~
Hakcipta 2007-2011, www.DarulKautsar.net

Bahan-bahan dalam laman web ini boleh disalin dan diedarkan dengan syarat bukan untuk tujuan komersial. Sebarang bahan yang disalin/diedarkan hendaklah dinyatakan sumbernya - www.darulkautsar.net

RSS Created By : darulkautsar.net / ejoeSolutions.com / AhliMasjid.com Pelawat Atas Talian: 1